NILAI BUDAYA DAN SPIRITUAL UPACARA ADAT MAPAG TAMU AGUNG DI PERGURUAN SILAT SANG MAUNG BODAS PONDOK PESANTREN MODERN DZIKIR AL-FATH KOTA SUKABUMI Inne Ariefianty1, Asep Hoerudin Abdul Aziz2 Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan1, STKIP-PGRI Sukabumi2 Innefajar2@gmail.com1, abiazzam26@gmail.com, Info Artikel Abstrak Upacara adat sebagai mekanisme fundamental dalam melestarikan nilai-nilai Riwayat artikel: Submit: Bulan 02, 2026 Review: Bulan 02, 2026 Publish: Bulan 02, 2026 (Cambria 9) luhur di tengah dialektika antara tradisi, agama, dan modernitas pada masyarakat Sunda. Fokus utama diarahkan pada Upacara Adat Mapag Tamu Agung di Pesantren Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi, yang menghadapi tantangan untuk mempertahankan orisinalitas nilai di tengah pergeseran fungsi ritual menjadi seni pertunjukan. Kajian Teori mengintegrasikan dua pilar utama, yaitu filsafat gerak Henri Bergson yang menekankan pada durasi kualitatif (la durée) dan dorongan vital (élan vital), serta semiotika Roland Barthes untuk membedah lapisan makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam simbol ritual. Metodologi Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi etnografi, di mana pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan informan kunci seperti KH. M. Fajar Laksana, serta analisis dokumentasi terkait naskah legenda Lisung Ngapung. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Upacara Adat Mapag Tamu Agung berfungsi sebagai repetisi narasi sejarah Pajajaran yang diintegrasikan dengan nilai spiritual Islam- Sunda. Melalui prosesi Ngagotong Lisung, nilai gotong royong dan solidaritas diinternalisasi secara fisik oleh para pelaku ritual. Selain itu, simbolisme material seperti Payung Agung dan Ikeut Sunda bertransformasi menjadi representasi perlindungan ilahi dan pengendalian diri terhadap hawa nafsu. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa ritual ini merupakan model embodied learning yang efektif dalam pendidikan karakter di lingkungan pesantren, yang mampu menyelaraskan warisan budaya lokal dengan identitas religius kontemporer secara harmonis dan fungsional. Kata Kunci : Élan Vital, Mapag Tamu Agung, Ngagotong Lisung, Pajajaran, Semiotika. PENDAHULUAN Upacara adat merupakan salah satu mekanisme fundamental bagi komunitas budaya di Indonesia untuk melestarikan dan mewariskan nilai-nilai luhur dari satu generasi ke generasi berikutnya (Narawati et al., 2021). Dalam masyarakat Sunda, ritual-ritual adat secara historis telah menunjukkan adanya dialektika yang kompleks antara tradisi historis yang diwariskan, keyakinan agama khususnya Islam, dan tuntutan masyarakat modern (Anjany et al., 2021). Di Jawa Barat, upacara adat tidak hanya berfungsi sebagai rutinitas ritual, tetapi juga sebagai narasi sejarah tentang peristiwa masa lalu dan imajinasi kolektif tentang masa depan (Setiawan et al., 2025). Contohnya terlihat pada Upacara Adat Ngalaksa, yang mengalami adaptasi (elaboration) terhadap nilai-nilai masyarakat modern agar dapat terus relevan, namun tetap mempertahankan inti naratif historisnya (Komalasari et al., 2025). Upacara penyambutan seperti Mapag Panganten, Seren Taun, dan masih banyak lagi upacara-upacara adat lainnya juga mengalami pergeseran fungsi dari ritual sakral menjadi seni pertunjukan yang mampu beradaptasi dengan selera pasar, meskipun inovasi ini berisiko mengorbankan nilai-nilai tradisional asli (Agustini et al., 2024). 1 Masyarakat Sunda senantiasa menjunjung tinggi tiga prinsip utama yaitu silih asih (saling menyayangi), silih asuh (saling menjaga), dan silih asah (saling mengajari) (Revangga & Caturwati, 2025). Prinsip-prinsip ini harus terwujud dan dipertahankan dalam berbagai praktik ritual, yang berfungsi sebagai sarana sosialisasi dan pengukuhan nilai-nilai budaya yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari (Kurniawan et al., 2019). Meskipun ritual Mapag Tamu Agung jelas menampilkan nilai budaya dan spiritual, penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan mendasa anatara lain yaitu Bagaimana nilai-nilai budaya Pajajaran kuno yaitu narasi heroik, pengayoman, gotong royong dan nilai-nilai spiritual Islam-Sunda seperti ngaji rasa, pengendalian diri dapat dikomunikasikan, diinternalisasi, dan dipertahankan melalui rangkaian gerak ritual yang diperankan oleh para pelaku, terutama dalam prosesi Ngagotong Lisung? Signifikansi penelitian ini terletak pada dua aspek yaitu (1) Secara teoritis, penelitian ini mengintegrasikan Filsafat Gerak Henri Bergson, yang menekankan waktu kualitatif (la durée) dan gerak yang terwujud (embodiment), untuk menganalisis ritual. Pendekatan non-reduktif ini akan menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana budaya dihayati dan dipertahankan dalam tubuh dan pengalaman waktu yang dibagikan, melampaui analisis simbol statis dan (2) Secara praktis, analisis ini memberikan kerangka kerja bagi institusi pendidikan seperti pesantren dan sekolah yang ada dibawah naungan ponpes modern dzikir al-fath untuk dapat mengidentifikasi dan mengoptimalkan ritual budaya sebagai metode embodied learning yang efektif dalam pendidikan karakter (Aliyudin Mail, 2020). KAJIAN TEORI Upacara adat merupakan konstruksi sosial yang kaya makna. Ia diartikan sebagai kegiatan keagamaan atau adat yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Allah SWT dan memohon perlindungan serta kesejahteraan. Dalam konteks Sunda, ritual dianggap sebagai sarana manusia berhubungan dengan yang ilahi (sakral), sambil menjunjung tinggi silih asih, silih asuh, dan silih asah (Revangga & Caturwati, 2025). Fenomena upacara adat seringkali merupakan hasil dari dialektika antara nilai agama dan kebudayaan. Ketika suatu agama bertemu dengan budaya lokal, terjadi proses penyesuaian yang menghasilkan bentuk baru yang bersifat sinkretis, yang kemudian menjadi identitas kultural. Dalam Upacara Adat Sunda di Kabupaten Kuningan, misalnya, prosesi perkawinan diwarnai oleh ajaran Islam, menciptakan perpaduan antara adat, agama, dan peraturan pemerintah (Agus Gunawan, 2019). Pada Penelitian ini metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dipilih karena kemampuannya untuk melakukan pembacaan terhadap makna-makna yang tersirat (implied meanings) dalam praktik kebudayaan dan keagamaan. Prinsip metodologis etnografi mensyaratkan bahwa temuan penelitian tidak dapat dipisahkan dari lokasi spesifik dan lingkungan sosial tempat fakta diperoleh. Secara operasional, etnografi diarahkan untuk mengungkap nilai-nilai dan norma- norma yang muncul dalam ritual sebagai narasi sejarah masyarakat pendukungnya(Fauzan Muhammad Iqbal et al., 2024). Narasi ritual bukanlah hal yang statis, melainkan bergerak secara simultan, melakukan sirkulasi dan adaptasi. Narasi dapat diidentifikasi melalui empat bentuk yaitu repetition (pengulangan), amplification (amplifikasi), elaboration (elaborasi), dan reverberation (penggemamaan). Dalam konteks Mapag Tamu Agung, ritual ini berfungsi sebagai repetisi pengulangan peristiwa masa lampau yaitu legenda Lisung Ngapung untuk memelihara ingatan kolektif leluhur (Hernawan et al., 2023). Analisis gerakan ritual tidak dapat dipisahkan dari pemahaman tentang waktu dan pengalaman yang terwujud. Filsafat Henri Bergson menawarkan lensa yang berharga melalui penolakannya terhadap "spasialisasi pemikiran" kecenderungan untuk memecah fenomena menjadi komponen diskrit yang terukur. Sebaliknya, Bergson mengadvokasi pandangan waktu sebagai durasi kualitatif (la durée) yaitu waktu yang dihayati dan dialami sebagai aliran yang tak terputus. Dalam konteks budaya, Bergson berpendapat bahwa kebudayaan tidak dapat dipahami hanya sebagai simbol kognitif atau abstrak, melainkan sebagai embodied culture atau dengan kata lain budaya yang terwujud yang muncul dari interaksi dan praktik tubuh yang dibagikan, bukan hanya dari simbol pikiran (FADILAH, 2023). Budaya, dalam pandangan ini, adalah waktu yang tersosialisasikan yang teraktualisasi dalam durasi yang dialami, dan karenanya harus di-endure (dihayati/dialami). Gerak ritual kolektif adalah manifestasi dari dorongan kreatif manusia untuk berorganisasi, yang disebut élan vital.2 Élan vital atau dorongan vital dalam organisasi sosial dicirikan oleh impuls untuk berimprovisasi dan berkreasi, bukan hanya mengontrol dan membagi. Oleh karena itu, gerakan kolektif dalam Ngagotong Lisung dilihat sebagai ekspresi élan vital sosial, yang secara fisik dan temporal menciptakan etika sosial dan moralitas yang non-reduktif. Mengubah budaya berarti mengubah waktu kualitatif pengalaman durasi bukan hanya mengubah tempat (Ratih, n.d.). Untuk mengurai kompleksitas makna berlapis dalam ritual, kerangka semiotika Roland Barthes digunakan, yang membagi penandaan menjadi tiga tingkatan yaitu denotasi, konotasi, dan mitos.1 1. Denotasi adalah sebuah Makna literal, objektif, dan pasti. misalnya, Lisung adalah lesung padi yang terbuat dari kayu. 2. Konotasi adalah Makna yang tidak jelas, tidak langsung, atau ambigu, menjelaskan hubungan penanda dan petanda dalam realitas sosial, misalnya, Lisung melambangkan wadah kehidupan atau kekuatan kolektif. 3. Mitos adalah sebuah Penandaan tingkat kedua, di mana tanda denotasi+konotasi menjadi penanda baru yang mewujudkan ideologi, sejarah, atau kebijaksanaan kolektif yang lebih besar. Dalam konteks ini, mitos berfungsi untuk menelusuri makna yang tersembunyi, seperti ideologi Pajajaran atau jaminan keamanan ilahiah yang melekat pada ritual.1 Analisis ini juga melibatkan Kode Narasi seperti cerita dan nasihat yang disampaikan dan Kode Kultural yiatu simbol kolektif, busana, dan musik(Komalasari et al., 2025). METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi etnografi. Metode kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menggambarkan situasi sosial ritual secara mendalam, luas, dan menyeluruh. Sesuai kaidah etnografis, tujuan utamanya adalah untuk membaca makna-makna yang tersirat, mengungkap nilai-nilai dan norma-norma, serta menghubungkan fakta-fakta yang diamati dengan latar belakang historis dan kulturalnya. Lokasi penelitian berpusat pada penyelenggaraan Upacara Adat Mapag Tamu Agung di Paguron Silat Sang Maung Bodas Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, Sukabumi, Jawa Barat. Ritual ini telah dibakukan dan rutin dilaksanakan sejak tahun 2010 sebagai bagian dari kegiatan pesantren dalam menyambut tamu-tamu atau tokoh-tokoh penting. Proses Pengumpulan Data dikumpulkan melalui triangulasi sumber antara lain yaitu melalui: 1. Observasi Partisipatif yaitu Pengumpulan informasi dilakukan melalui observasi langsung selama prosesi upacara. Peneliti berupaya tetap sensitif terhadap berbagai fenomena di lapangan, mencatat urutan prosesi, interaksi, dan suasana ritual, tanpa mengabaikan konteks sosial. 2. Wawancara Mendalam yaitu Wawancara dilakukan dengan informan kunci, termasuk pimpinan pesantren dan guru besar perguruan silat yaitu KH. M. Fajar Laksana, pengurus ritual, Jawara pengawal, dan Ki Lengser. Wawancara ini bertujuan menggali interpretasi emosional, filosofis, historis, serta fungsi ritual dalam pendidikan karakter. 3. Analisis Dokumentasi yaitu Mengkaji materi pendukung, seperti video, dokumentasi digital, literatur internal pesantren, dan naskah legenda Lisung Ngapung yang menjelaskan mantra dan sejarahnya. Analisis data mengikuti tiga tahapan utama dari metode deskriptif etnografis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik analisis diperkaya dengan kerangka teoretis sebagai berikut yaitu: 1. Analisis Narasi Etnografis yaitu Mengidentifikasi bagaimana ritual berfungsi sebagai narasi sejarah melalui proses repetition, amplification, elaboration dengan menghubungkan fakta- fakta prosesi dengan latar belakang historis Pajajaran dan konteks Islam-Sunda. 2. Analisis Simbolik Semiotika Barthes yaitu Setiap elemen ritual seperti Selendang Hijau, Lisung, Payung Agung, dll. dianalisis berdasarkan tiga lapisan maknanya yaitu denotasi atau deskripsi fisik, konotasi yaitu fungsi sosial atau emosional, dan mitos yaitu ideologi atau nilai budaya luhur. 3. Analisis Gerak Teoritis Bergson yaitu Gerak kolektif yang esensial, terutama Ngagotong Lisung dan tarian Jawara, dianalisis sebagai manifestasi la durée dan élan vital. Hal ini diarahkan untuk memahami bagaimana nilai-nilai spiritual dan sosial diinternalisasi melalui pengalaman fisik dan waktu kualitatif, bukan sekadar urutan mekanis. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Narasi Historis Ritual sebuah Repetisi Legenda Pajajaran Upacara Adat Mapag Tamu Agung beroperasi sebagai narasi sejarah melalui mekanisme repetition. Ritual ini secara eksplisit mengulang dan menghadirkan kembali legenda Ki Tupang dan Nyi Centrik yang menggunakan Lisung Ngapung. Legenda ini berasal dari masa kerusuhan dan perampokan di Pajajaran, di mana lisung digunakan sebagai kendaraan untuk memberantas kejahatan. Pengulangan narasi ini diperkuat melalui penggunaan mantra Lisung Ngapung yang dilantunkan Ki Lengser saat prosesi menggotong Lisung, memohon kekuatan Sanghiyang Agung yaitu Allah SWT dan Batara Sungki kekuatan dari seorang pemimpin negara, warisan Prabu Siliwangi untuk sirna kemungkaran dan hadirkan cahaya Sukma Rahayu Sukma Agung. Repetisi ini berfungsi untuk mengekalkan ingatan kolektif masyarakat terhadap nilai-nilai leluhur. Dalam konteks modern, narasi ini di interpretasikan sebagai upaya untuk menegakkan ketertiban, keamanan, dan menjamin legitimasi kepemimpinan. Ritual ini adalah manifestasi konkret dari upaya pelestarian etika sosial Pajajaran yaitu haneuleum tungkus karuhun Sunda Pajajaran yang dijadikan model budaya, atau petunjuk di masa depan atau hanjuan siam. Dengan demikian, ritual ini bukan hanya penyambutan, tetapi penegasan kembali jaminan spiritual dan sosial bahwa tamu yang datang adalah bagian dari penegakan kebenaran dan ketertiban. B. Analisis Struktural Simbolisme Ritual Setiap elemen dalam Upacara Adat Mapag Tamu Agung memiliki lapisan makna yang kompleks, mulai dari denotasi yang jelas hingga mitos yang bersifat ideologis, sesuai kerangka semiotik Roland Barthes. Tabel 1. Simbolisme dan Makna Multilayer Upacara Adat Mapag Tamu Agung Elemen Ritual Deskripsi Denotatif Makna Konotatif Makna Mitis/Spiritual Selendang Hijau Pengalungan selendang hijau oleh tuan rumah (shohibul bait) Penerimaan yang hangat, Kedamaian, Kesuburan. Kesucian niat, Perlindungan Spiritual (Filosofi Ngaji Rasa). Payung Agung Payung yang menaungi tamu agung, dibawa oleh Satria Panayag. Perlindungan, Kehormatan, Pengayoman, membuat tamu nyaman dan bergembira. Simbol Tuhan sebagai Pelindung Tertinggi (panyawangan) perantara alam dunia dan langit. Ngagotong Lisung Lisung (lesung padi) diangkat oleh 8 Jawara Pajajaran. Gotong Royong, Solidaritas, Keseimbangan kekuatan, Sabilulungan. Takhta Raja, Peningkatan Harkat Martabat, Wadah kehidupan/doa yang mampu menegakkan kebenaran. Ki Lengser Tokoh Sunda yang membacakan doa, nasihat (rajah), dan memandu. Kebijaksanaan, Keluwesan, Pemandu sosial (guide). Pemimpin yang rendah hati, Jembatan antara rakyat dan Elemen Ritual Deskripsi Denotatif Makna Konotatif Makna Mitis/Spiritual yang ilahi (Buana Tengah). Ikeut Sunda Kain pengikat kepala yang dipasangkan kepada tamu. Identitas budaya Sunda, Kesopanan, Pengendalian diri (Ngalawan Hawa Nafsu). Mengikat pikiran dan hawa nafsu dari godaan dunia (Hubbud Dunya), dibimbing oleh ilmu. 8 Jawara Penggotong Delapan orang Jawara pembawa Lisung. Kekuatan kolektif yang sinergis; gotong royong yang optimal. Angka 8 sebagai simbol kekuatan dan keabadian/tidak terputus. Sumber: Diolah Penulis, 2025. Secara denotatif, lisung adalah alat penumbuk padi, tetapi dalam ritual ini ia mengalami transformasi semiotik menjadi Takhta Raja. Konotasinya adalah gotong royong dan sabilulungan. Pada tingkat mitos, lisung yang dinaiki tamu melambangkan peningkatan harkat martabat dan derajat tamu. Mengaitkannya dengan legenda Lisung Ngapung yang memberantas kejahatan, penumpangan tamu pada lisung juga memberikan jaminan bahwa tamu tersebut adalah sosok yang mampu menegakkan kebenaran dan ketertiban. Payung Agung secara denotatif melindungi dari panas dan hujan. Konotasinya mencakup pengayoman dan penghormatan, membuat tamu merasa nyaman dan bergembira. Makna mitisnya lebih dalam, melambangkan Tuhan sebagai pelindung tertinggi (panyawangan) dan perantara antara alam dunia dan langit. Nilai perlindungan ini sangat sentral dalam etika sosial Sunda, di mana suami diwajibkan menjadi pelindung bagi istri dan keluarga. Pemberian Ikeut Sunda sebagai pengikat kepala secara denotatif adalah simbol identitas budaya. Namun, pada tingkat spiritual, ia dimaknai oleh pesantren sebagai simbol mengikat pikiran dan hawa nafsu (Ngalawan Hawa Nafsu) agar hidup dibimbing oleh ilmu, menjauhkan diri dari godaan dunia (Hubbud Dunya). Ini menunjukkan elaboration budaya, di mana simbol tradisional dimanfaatkan untuk mengintegrasikan dan memperkuat ajaran Islam kontemporer. C. Analisis Gerak Ritual Berdasarkan Filsafat Gerak Henri Bergson Gerak ritual dalam upacara ini harus dipahami sebagai pengalaman waktu yang dihayati (la durée) dan manifestasi dorongan kolektif (élan vital), bukan hanya urutan koreografis yang mekanis. Tabel 2. Keterkaitan Gerak Ritual dan Konsep Filsafat Gerak Henri Bergson Aspek Gerak Ritual Konsep Bergson Analisis Gerak Embodi Prosesi Ngagotong Lisung yang menggambarkan Gotong Royong Élan Vital yaitu Impuls Kreatif Sosial Gerak kolektif yang intens oleh delapan orang memerlukan sinkronisasi dan kerjasama tim yang mendalam. Gerak ini mengaktualisasikan élan vital sosial, menolak pemecahan mekanis dan mengutamakan pengalaman waktu kualitatif (durée) yang menyatukan. Gerak ini menciptakan etika persatuan yang dihayati atau dalam istilah sunda disebut dengan sabilulungan. Gerak Jawara dan Pager Betis Durée yaitu Waktu Kualitatif dan Ingatan Kolektif Tarian dan formasi pengawal yang membawa Golok dan Tumbak adalah tindakan simbolik yang mengaktifkan ingatan kolektif tentang perjuangan historis Pajajaran yaitu legenda Lisung Ngapung. Melalui gerak, peserta menghayati kembali durée historis, mentransformasikannya menjadi etika perlindungan yang terwujud (embodiment). Gerak luwes, jenaka, dan humoris (bodoran) oleh Ki Lengser, yang kontras dengan formalitas Peran Ki Lengser Mechanism pengawal, merepresentasikan keluwesan budi dan sebuah of Matter kemampuan untuk menundukkan ego. Secara Keluwesan dan vs. Life of Bergsonian, gerak ini menyelaraskan mekanika Humor the Spirit sosial yang kaku (Mechanism of Matter) dengan kehidupan spiritual yang fleksibel dan bijaksana (Life of the Spirit). Sumber: Diolah Penulis, 2025. Prosesi Ngagotong Lisung adalah contoh nyata bagaimana nilai spiritual dan etika sosial diinternalisasi melalui pengalaman fisik yang dibagikan. Gerakan kolektif yang membutuhkan kekuatan dan kerjasama intens yaitu dimana 8 orang punggawa mengangkat lisung menciptakan persatuan yang terwujud. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti gotong royong dan solidaritas (silih asah dan silih asuh) tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi "dipaksakan" dan "dihayati" melalui tubuh dalam aliran waktu kualitatif (durée). Gerakan ritual, yang menciptakan pengalaman embodied learning, seringkali lebih kuat dalam internalisasi karakter dibandingkan pembelajaran kognitif konvensional. Konsep ini sesuai dengan pandangan masyarakat adat bahwa kekuatan spiritual dapat diperoleh melalui ketahanan dan kepasrahan fisik seperti dalam istilah Sunda lain, teu dahar asal kuat. D. Nilai Budaya dan Spiritual sebagai Hasil Dinamika Ritual Upacara Adat Mapag Tamu Agung menghasilkan seperangkat nilai yang vital bagi komunitas Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath dan pelestarian budaya Sunda yaitu: 1. Gotong Royong dan Solidaritas dimana Nilai ini adalah inti yang termanifestasi paling jelas dalam prosesi Ngagotong Lisung. Kerja sama tim yang solid antara delapan jawara tidak hanya memenuhi tugas fisik tetapi juga mengaktualisasikan élan vital sosial. Proses ini memperkuat ikatan sosial dan komitmen kolektif, yang merupakan nilai penting dalam masyarakat Sunda (sabilulungan). 2. Perlindungan dan Pengayoman yaitu Payung Agung dan pengawalan oleh Jawara Pajajaran (membawa golok dan tumbak) menunjukkan jaminan keamanan bagi tamu. Nilai pengayoman ini, yang secara simbolis dikaitkan dengan perlindungan ilahi dan peran kepemimpinan, mencerminkan etika Sunda untuk membuat tamu merasa nyaman, tenang, dan dihormati. 3. Integrasi Islam-Sunda (Sinkretisme Aktif) dimana Ritual ini menunjukkan strategi elaboration budaya. Warisan Pajajaran (legenda, lisung, iket) dipertahankan melalui lensa ajaran Islam. Misalnya, Ikeut Sunda dimaknai sebagai pengekangan hawa nafsu dari Hubbud Dunya. Upaya sinkretis aktif ini menjamin bahwa tradisi tetap relevan dan berfungsi sebagai identitas kultural yang kuat, sejalan dengan keyakinan religius komunitas pesantren. 4. Pendidikan Karakter dan Spiritualitas, Upacara ini secara rutin digunakan sebagai media pendidikan karakter, mengajarkan santri tentang disiplin, gotong royong, dan penghormatan. Integrasi kearifan lokal melalui upacara adat seperti ini terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan yang sejalan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila terutama gotong royong dan berkebhinekaan global. Gerak ritual yang dihayati menjadi metode pedagogis yang kuat untuk membentuk perilaku dan karakter siswa. KESIMPULAN Upacara Adat Mapag Tamu Agung adalah manifestasi budaya yang kaya, berhasil mengintegrasikan narasi historis Kerajaan Pajajaran dengan nilai-nilai spiritual Islam-Sunda kontemporer. Ritual ini bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah arena komunikasi dan pewarisan nilai yang terstruktur. Analisis etnografis dan semiotik mengkonfirmasi bahwa nilai budaya utama yaitu gotong royong, solidaritas, pengayoman dan nilai spiritual yaitu kesucian niat, pengendalian diri, perlindungan ilahi terkandung dalam setiap simbol dan gerak ritual, yang dianalisis dalam tiga lapisan makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Aplikasi Filsafat Gerak Henri Bergson menunjukkan bahwa prosesi kolektif dari Upacara Adat Mapag Tamu Agung berfungsi sebagai aktualisasi élan vital sosial, yang memaksa peserta untuk menghayati kembali waktu kualitatif (la durée) sejarah kolektif dan etika sosial Sunda. Dengan demikian, gerak ritual ini berfungsi sebagai mekanisme embodied learning yang sangat efektif dalam pendidikan karakter di lingkungan Pondok Modern Pesantren Dzikir Al-Fath. Secara teoritis, penelitian ini menunjukkan relevansi Filsafat Gerak Bergson dalam antropologi gerak dan studi budaya, memberikan kerangka non-mekanis untuk memahami bagaimana nilai-nilai diwariskan dan dipertahankan melalui pengalaman tubuh yang dibagikan dan dihayati. Secara praktis, Upacara Adat ini merupakan model yang sangat efektif bagi institusi pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal secara mendalam dan holistik, mendukung penguatan identitas budaya dan karakter bangsa. Disarankan untuk melakukan studi komparatif antara Upacara Adat Mapag Tamu Agung dengan ritual Sunda lainnya seperti Mapag Panganten atau Seren Taun untuk membedah perbedaan dalam manifestasi durée dan élan vital di konteks sosial yang berbeda. Selain itu, diperlukan analisis linguistik mendalam terhadap rajah (doa dan nasihat) yang dilantunkan oleh Ki Lengser, yang berfungsi sebagai kode naratif utama, untuk menguraikan secara komprehensif bagaimana pesan verbal menguatkan nilai-nilai spiritual yang diwujudkan dalam gerak nonverbal. REFERENSI Agus Gunawan. (2019). TRADISI UPACARA PERKAWINAN ADAT SUNDA (Tinjauan Sejarah Dan Budaya Di Kabupaten Kuningan). Jurnal Artefak, 6(2). Agustini, A., Setiawan, K., & Hikmah, S. N. (2024). Analisis Makna Semiotika Roland Barthes Dalam Upacara Lengser Mapag Panganten Pada Pernikahan Adat Sunda. Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran Dan Penelitian, 10(2), 393- 407. Https://Doi.Org/10.52434/Jk.V10i2.41735 Aliyudin Mail, M. (2020). Narasi Sejarah Dalam Upacara Adat Sunda: Kajian Etnografi Atas Upacara Adat Ngalaksa Di Rancakalong Sumedang. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Humaniora, 22(2), 259-266. Https://Doi.Org/10.24198/Sosiohumaniora.V22i2.21887 Anjany, S. M., Mahzuni, D., & Mulyadi, R. M. (2021). Desember 2021 Halaman 268-281 METAHUMANIORA. Metahumaniora, 11, 268-281. FADILAH, A. N. (2023). DINAMIKA DAN PROSESI LAGU KIDUNG SUNDA PADA UPACARA PERNIKAHAN ADAT SUNDA DI WINDUHAJI KUNINGAN. Bussiness Law Binus, 7(2), 33-48. Http://Repository.Radenintan.Ac.Id/11375/1/PERPUS PUSAT.Pdf%0Ahttp://Business-Law.Binus.Ac.Id/2015/10/08/Pariwisata- Syariah/%0Ahttps://Www.Ptonline.Com/Articles/How-To-Get-Better-Mfi- Results%0Ahttps://Journal.Uir.Ac.Id/Index.Php/Kiat/Article/View/8839 Fauzan Muhammad Iqbal, Aris Riswandi Sanusi, & Erwin Susanto. (2024). Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dalam Upacara Adat Sunda Di Ma Miftahul Huda. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 8(2), 134-145. Https://Doi.Org/10.31571/Jpkn.V8i2.7844 Hernawan, W., Cahya Putri, I., & Basri, H. (2023). Perilaku Budaya Dalam Pernikahan Tradisi Lampung Pesisir. Journal Media Public Relations, 3(2), 61-70. Https://Doi.Org/10.37090/Jmp.V3i2.1338 Komalasari, D., Susanto, D. R. G., & Nurholis, E. (2025). Revitalization Of Mapag Panganten: Preserving West Java Culture In The Age Of Modernization. JAMASAN: Jurnal Pendidikan Mahasiswa Sejarah, 1(2), 164-183. Kurniawan, A., Priyatna, A., & Muhtadin, T. (2019). Representasi Drag Queen Pada Tokoh Ambu Dalam Upacara Adat Mapag Panganten Sunda. Humanika, 26(2), 129. Https://Doi.Org/10.14710/Humanika.V26i2.23940 Narawati, T., Hapidzin, R. I., Sunaryo, A., & Budiman, A. (2021). Pantun Pajajaran Bogor Dalam Upacara Adat Bakti Purnamasari: Kajian Nilai-Nilai Teladan Sosial Etnis Sunda. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(3), 280-289. Https://Doi.Org/10.31091/Mudra.V36i3.1280 Ratih, D. (N.D.). NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI MISALIN DI KECAMATAN CIMARAGAS KABUPATEN CIAMIS. 45-57. Revangga, I., & Caturwati, E. (2025). Analisis Perkembangan Bentuk Sajian Upacara Adat Mapag Panganten Sanggar Seni Nyi Pohaci Kabupaten Subang. Jurnal Seni Makalangan, 12(1), 28-36. Https://Jurnal.Isbi.Ac.Id/Index.Php/Makalangan/Article/View/4261 Setiawan, D., Nugraha, S., & Alfani, A. (2025). IDENTITAS BUDAYA SUNDA DAN NILAI ESTETIKA SPIRITUAL DALAM SENI SERTA TRADISI PENCA ALIRAN SANG MAUNG BODAS DI PESANTREN MODERN DZIKIR AL-FATH. 01(01), 1-6.