FILSAFAT SPIRITUAL DALAM SENI PENCA GOLOK KALA PETOK SENJATA KESADARAN DIRI DALAM TRADISI PESANTREN Maulani Aisyah1, Lupi Alawiyah 2 Universitas Sebelas Maret1, Universitas Muhammadiyah Sukabumi2, aisyahmaulani4@gmail.com, lupialawiyah3@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Bulan XX, 20XX Review: Bulan XX, 20XX Publish: Bulan XX, 20XX (Cambria 9) Seni bela diri tradisional Nusantara memiliki dimensi spiritual yang mendalam, berfungsi sebagai sarana penyucian batin dan pencarian makna hidup. Di tengah tantangan modernisasi dan penurunan minat generasi muda terhadap budaya lokal, Seni Golok Kala Petok, karya KH. M. Fajar Laksana dari Pesantren Dzikir Al-Fath Sukabumi, muncul sebagai inovasi kontemporer. Golok Kala Petok menyintesis pencak silat, irama tradisional, dan nilai zikir sebagai media kontemplatif untuk pembersihan jiwa dan kedekatan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif dengan kerangka etnografi seni pertunjukan. Analisis data dilakukan melalui interpretasi simbolik Clifford Geertz (1973) untuk mengurai struktur makna filosofis dan spiritual, serta teori filsafat gerak Henri Bergson (1998) untuk mengkaji korelasi antara gerakan koreografi (Gerak Dzikir) dengan peningkatan kesadaran diri (Kala). Filosofi utama Golok Kala Petok, yaitu Kala (waktu/kesadaran) dan Petok (kedekatan), melambangkan perjalanan spiritual manusia fana menuju penyatuan Ilahi. Gerakan inti Golok Kala Petok, terutama tarikan golok sambil berzikir La ilaha illallah, adalah manifestasi koreografis dari Tauhid dan pemurnian niat, yang mendukung prinsip "menang tanpa musuh" atau mengalahkan ego pribadi. Golok Kala Petok menawarkan model pedagogis spiritual-modern yang unik, berhasil mengintegrasikan tradisi bela diri Sunda-Banten dengan ajaran tasawuf pesantren. Keberhasilan ini didukung oleh strategi legalitas formal (Hak Cipta No. 000329868/2022) , menjamin kelangsungan GKP sebagai warisan budaya dan pendidikan karakter yang holistik menuju insan kamil. Kata Kunci : Filsafat, Spiritual, Golok Kala Petok, Interpretasi, Simbolik, Filsafat Gerak, Tradisi Pesantren, Kesadaran Diri PENDAHULUAN Seni bela diri tradisional di Nusantara, khususnya Pencak Silat, telah lama melampaui fungsi murni sebagai pertahanan diri. Dalam konteks budaya Sunda dan Banten, silat secara historis adalah sarana pencarian makna hidup dan ketenangan batin, serta menjadi simbol peradaban (Sahara et al., 2023). Para jawara di masa lampau tidak hanya dihormati karena kanuragan atau kekuatan fisik, tetapi juga karena kekuatan spiritual dan kepemimpinan sosial mereka. Artefak seperti golok, yang secara turun-temurun digunakan oleh para jawara, mengandung nilai kehormatan, keteguhan batin, dan sering dianggap benda pusaka yang sacral (Hafidz et al., 2024). Namun, warisan budaya ini menghadapi tantangan signifikan di era modern, terutama dengan kemajuan era Society 5.0 (Darmawan et al., 2023). Data menunjukkan adanya penurunan minat generasi muda terhadap seni dan budaya tradisional, yang bahkan dapat mencapai 50%. Jika regenerasi pemangku budaya terhenti, krisis kebudayaan di masa depan menjadi ancaman nyata (Siti, 2019). Menanggapi dinamika ini, Seni Golok Kala Petok muncul sebagai manifestasi kontemporer dan relevan. Seni Golok Kala Petok adalah karya orisinal KH. M. Fajar Laksana, seorang ulama dan Guru Besar Pencak Silat Sang Maung Bodas, yang mengembangkan seni ini di lingkungan Pesantren Dzikir Al-Fath Sukabumi (Ruswandi, 2024). Seni Golok Kala Petok secara unik memadukan unsur bela diri, irama musik tradisional (kendang), dan nilai spiritualitas Islam, khususnya dzikir, sebagai ekspresi penyucian diri menuju kesadaran spiritual. Melalui sintesis yang inovatif ini, Seni Golok Kala Petok berupaya menjembatani kekunoan tradisi Sunda-Banten dengan tuntutan pendidikan karakter modern berbasis Islam (Christine, 2021). Kajian mendalam mengenai Seni Golok Kala Petok sangat penting karena menawarkan studi kasus yang kompleks mengenai inovasi budaya, spiritualitas terlembaga, dan pelestarian melalui jalur pedagogis dan hukum formal. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan utama berikut ini yaitu: 1) Bagaimana model interpretasi simbolik Clifford Geertz (1973) dapat digunakan untuk mengurai struktur makna filosofis dan spiritual yang tersembunyi dalam terminologi, artefak, dan koreografi Golok Kala Petok? 2) Bagaimana teori filsafat gerak Henri Bergson (1998) dapat mengkaji korelasi antara gerakan fisik Seni Golok Kala Petok yang merupakan intrepretasi dari Gerak Dzikir dengan dimensi Kala yaitu waktu dan peningkatan kesadaran diri dalam konteks ritual pesantren? 3) Apa implikasi pedagogis dari filosofi Golok Kala Petok dalam pembentukan karakter seimbang (insan kamil) di Pesantren Dzikir Al-Fath, dan bagaimana model pelestarian budaya ini dapat dipertahankan melalui legalitas formal? Signifikansi penelitian ini terletak pada analisis interpretif ganda terhadap sebuah praktik budaya kontemporer. Dengan menggunakan kerangka Geertz, penelitian ini dapat membaca Seni Golok Kala Petok sebagai "teks" yang mengungkapkan pandangan dunia masyarakat pesantren. Selanjutnya, penerapan filsafat gerak Bergson memungkinkan analisis yang lebih kaya mengenai bagaimana aksi fisik mentransformasi kesadaran spiritual, memberikan sumbangan teoretis yang unik dalam kajian seni bela diri dan tasawuf di Indonesia (Muttaqien, 2019). KAJIAN TEORI Antropologi interpretatif Geertz memandang budaya sebagai "jaringan makna" yang dianyam oleh manusia, dan tugas peneliti adalah membaca jaringan tersebut melalui deskripsi yang tebal (thick description). Dalam konteks Seni Golok Kala Petok, seni pertunjukan ritual ini dipandang sebagai sebuah teks yang mengungkapkan pandangan hidup dan etos spiritual komunitas Pesantren Dzikir Al-Fath. Penerapan model Geertz dalam penelitian ini berfokus pada dekonstruksi elemen-elemen Seni Golok Kala Petok: 1) Analisis Terminologi Menafsirkan makna kultural yang melekat pada istilah Golok, Kala (waktu/kesadaran), dan Petok (dekat/mendekat). Golok, yang secara historis adalah senjata jawara, dalam konteks pesantren bertransformasi menjadi simbol yang lebih tinggi: Ilmu dan Nur Ilahi untuk memisahkan kebenaran (haq) dari kebatilan (batil). 2) Analisis Koreografi Semiotik Menganalisis bagaimana gerakan fisik, seperti menarik golok dari bawah ke atas sambil melafazkan La ilaha illallah, berfungsi sebagai penanda (signifier) yang mewakili petanda abstrak (signified). Gerakan ini melambangkan pemurnian niat dan pencerahan hati (qalbu). 3) Analisis Etika Simbolik Interpretasi terhadap prinsip inti GKP, yaitu "menang tanpa musuh". Ini adalah puncak dari interpretasi Geertzian, yang menemukan bahwa kekuatan sejati bukan pada senjata, melainkan pada kemenangan melawan ego diri sendiri (Jihad Akbar), sebuah etos yang selaras dengan nilai silih asah, silih asih, silih asuh, silih wawangi yang ada pada filosofi budaya Sunda. Teori filsafat gerak Bergson (1998) membedakan antara waktu matematis (spatial time), yang terbagi-bagi dan mekanistik, dengan Waktu Murni (Duration), yaitu kesadaran yang mengalir dan berkelanjutan. Gerak dalam pandangan Bergson bukanlah sekadar serangkaian posisi spasial, melainkan manifestasi langsung dari kehidupan dan kesadaran (élan vital). Dalam kerangka Seni Golok Kala Petok, filosofi Kala (waktu/kesadaran) sangat beresonansi dengan konsep Duration Bergson. Pelatihan Seni Golok Kala Petok mengajarkan pengendalian diri terhadap Kala (waktu hidup) melalui gerak yang sadar dan terintegrasi dengan dzikir. Seni Golok Kala Petok mengubah aksi fisik (silat) menjadi tindakan spiritual, menjadikannya "Gerak Dzikir". Menurut pandangan sufistik Ibn 'Arabi, 1200 Masehi, kesadaran spiritual itu sendiri adalah "gerak dari wujud menuju Wujud Sejati". Dengan demikian, gerak Seni Golok Kala Petok secara aktif berfungsi sebagai metafora Bergson-Ibn 'Arabi yang berarti sebuah perjalanan eksistensial menuju kehadiran Ilahi. Penggunaan Bergson memungkinkan analisis kualitatif terhadap gerakan Seni Golok Kala Petok. Gerakan yang dilakukan dengan penghayatan dzikir seperti dalam 21 jurus Golok Kala Petok yang terdiri dari 11 sabetan, 5 tarikan, 4 tusukan, dan 1 gorokan 1 bertujuan untuk mematikan refleks mekanis dan menumbuhkan gerak yang didorong oleh intuisi dan kesadaran murni. Gerakan berulang dalam zikir berfungsi memperdalam ingatan spiritual (Dzikrulloh), membentuk intuisi (basirah) yang membedakan haq dan batil. Filosofi Seni Golok Kala Petok tidak dapat dipisahkan dari tradisi tasawuf (sufisme) yang menjadi inti pendidikan di Pesantren Dzikir Al-Fath. Praktik Seni Golok Kala Petok berfungsi sebagai thariqah yang menyatukan dzikir dan kanuragan. Silat dalam pesantren menjadi media efektif untuk menanamkan akhlakul karimah dan budi pekerti luhur. Filosofi PS Sang Maung Bodas yang menjadi induk Seni Golok Kala Petok didasarkan pada konsep 5 Lapisan Diri Manusia (Jasad, Pikir, Nafsu, Rasa, dan Qalbu/Ruh).1 Pelatihan 5 lapisan ini ditujukan untuk ditundukkan kepada Allah melalui pelaksanaan Sholat 5 Waktu, sehingga mencapai tingkatan ihsan atau manusia paripurna (insan kamil). Filosofi Gerakan Dzikir: Koreografi jurus Golok Kala Petok (21 jurus) memiliki makna numerologis yang kuat, melambangkan 2 (keseimbangan alam) dan 1 (Tauhid/Allah). Struktur gerak ini secara langsung dikaitkan dengan rukun-rukun agama: 5 tarikan melambangkan Rukun Islam, dan 1 gorokan melambangkan kalimat Tauhid (La ilaha illallah) sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar. Dengan demikian, Seni Golok Kala Petok bertindak sebagai kurikulum spiritual aktif yang memanfaatkan gerak kinestetik untuk membentuk kognisi (Iman) dan afeksi (Hati/Qalbu). METODE Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif naturalistik dengan desain Kajian Etnografi Seni Pertunjukan. Pendekatan ini dipilih karena efektif dalam menggali makna simbolik, norma, dan sistem nilai yang berlaku dalam unit sosial tertentu, yaitu tradisi Seni Golok Kala Petok di komunitas Pesantren Dzikir Al-Fath. Fokus fenomenologi dan etnografi diarahkan untuk memahami pengalaman spiritual yang terwujud dalam praktik Seni Golok Kala Petok. Observasi dilakukan di lingkungan latihan Pencak Silat Sang Maung Bodas dan Pesantren Dzikir Al-Fath, Sukabumi, Jawa Barat. Subjek penelitian ditentukan secara purposive dengan responden utama yaitu KH. M. Fajar Laksana, sebagai Guru Besar PS. Sang Maung Bodas dan kreator GKP dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath. Responden Pendukung meliputi para praktisi yaitu pelatih di Paguron Silat Sang Maung Bodas, santri dan mahasantri di Ponpes Modern Dzikir Al-Fath. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik triangulasi sumber untuk menjamin keabsahan data, Adapun metode-metode yang digunakan terdiri dari (1) Observasi Partisipatif yaitu dengan cara melakukan Pengamatan langsung terhadap pelatihan, koreografi Seni Golok Kala Petok, suasana ritual, iringan musik kendang tepak tilu, dan integrasi nilai-nilai Lima Ng dalam proses latihan. (2) Wawancara Mendalam dengan melakukan wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci untuk menggali konsep filosofis, historisitas, dan silsilah spiritual Seni Golok Kala Petok yang berasal dari keluarga Raden Sumawinata. (3) Studi Dokumentasi melalui Analisis dokumen formal Hak Cipta Golok Kala Petok No. 000329868/2022, kurikulum internal Pesantren Dzikir Al-Fath melaluli konsep Filosofi Lima Ng, dan sumber digital eksternal. Analisis data dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan, merujuk pada model Miles dan Huberman, yang diperkaya dengan kerangka interpretif ganda, Adapun tahapan yang dilakukan pada analisis yaitu: 1) Reduksi Data, dimana data mentah disaring untuk mengidentifikasi tema-tema inti yang berkaitan dengan Gaya yaitu implikasi dari koreografi dzikir, Makna yang merupakan filosofi Kala Petok, dan Legislasi yang merupakan implikasi dari Hak Kekayaan Intelektual. 2) Penyajian Data dimana Informasi diorganisasi melalui naratif, matriks, tabel, dan gambar untuk memudahkan pemahaman antar-variabel. 3) Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi Validasi Data yaitu melakukan Penafsiran data diverifikasi secara terus-menerus terhadap bukti lapangan, dengan menggunakan lensa teoritis: a) Interpretasi Simbolik dari Geertz untuk Menafsirkan Golok Kala Petok sebagai sistem simbol yang kaya akan makna etika dan sufistik. b) Filsafat Gerak Bergson digunakan Menafsirkan aksi koreografis Seni Golok Kala Petok sebagai upaya menuju kesadaran murni (Duration). HASIL DAN PEMBAHASAN Golok Kala Petok adalah hasil inovasi yang berakar kuat pada tradisi Sunda-Banten. Pemahaman terhadap Golok Kala Petok harus diawali dengan konteks historis golok di wilayah tersebut. Artefak golok memiliki sejarah panjang di Jawa Barat, sejak era Pajajaran, di mana ia dianggap sebagai benda sakral dan senjata khusus para raja (sang prabu), yang digunakan untuk membunuh (paranti maehan sagala). Fungsi ini kontras dengan alat kerja petani seperti kujang. Setelah Kesultanan Banten, fungsi golok meluas menjadi senjata rakyat, khususnya para pejuang (jawara) yang melawan kolonial Belanda, menjadikannya simbol keberanian dan kehormatan. Sosok jawara, yang sering digambarkan membawa golok, merupakan elit sosial yang memadukan kekuatan fisik (kanuragan) dan spiritualitas magis (elmu hikmah). Namun, arketipe jawara ini sering memiliki konotasi ganda; meskipun dapat menjadi pahlawan rakyat, mereka juga dikaitkan dengan perilaku negatif seperti bandit sosial, kesombongan (sompral), dan kekerasan. Golok Kala Petok merepresentasikan model pelestarian yang sangat berbeda dari tradisi golok lainnya contohnya Golok Ciomas yang memiliki nilai Eksklusif Sakral dimana Proses pembuatannya sangat sakral, melibatkan ritual Mulud, dan hanya diwariskan dalam garis keturunan Keluarga Ki Cengkuk. Model ini mengandalkan kerahasiaan dan otoritas darah untuk menjaga nilai. Golok Kala Petok dilestarikan secara Pedagogis Terbuka dan Legal, Golok Kala Petok mengadopsi warisan spiritual Sunda dan Banten, namun memilih untuk mengolahnya menjadi seni pertunjukan yang terstruktur dan terintegrasi dalam kurikulum pesantren. Perbedaan krusialnya adalah pilihan KH. M. Fajar Laksana untuk mengajukan Hak Cipta Golok Kala Petok dengan No. 000329868/2022. Tindakan legalitas formal ini menunjukkan suatu narasi pelestarian yang inovatif. Golok Kala Petok didemokratisasi, melepaskan ketergantungan pada eksklusivitas garis keturunan. Spiritualisme yang dulunya hanya dapat diakses melalui elmu batin yang terbatas kini diformalkan melalui pendidikan yang transparan. Legalitas menjamin integritas koreografi dan filosofi Golok Kala Petok dari penyalahgunaan, menjadikannya warisan pendidikan yang berkelanjutan. Melalui interpretasi simbolik Geertzian Thick Description yang dilakukan secara mendalam, Seni Golok Kala Petok dapat dibaca sebagai teks yang sarat makna. Simbolisme utamanya berpusat pada dialektika antara gerak, waktu, dan tujuan spiritual. Secara Struktur Makna Filsafat, Filosofi Golok Kala Petok terangkum dalam tiga unsur yang menciptakan dialektika antara jasmani yaitu fisik, akal yaitu nalar, dan ruh yaitu jiwa untuk membentuk insan kamil. Tabel 4.1. Tinjauan Filosofis Tiga Unsur Utama Golok Kala Petok Unsur GKP Makna Lahiriah: Fisik/Linguistik Makna Filosofis: Spiritual/Teologis Golok Senjata Ilmu dan Nur Ilahi sebagai alat pemisah antara haq dan batil Kala Waktu/Momen Kesadaran Eksistensial dan kendali diri terhadap waktu hidup Petok Dekat/Mendekat Tujuan Spiritual: Mendekat kepada Tuhan melalui penyucian diri Kala dalam Seni Golok Kala Petok dimaknai sebagai waktu dan kesadaran, yang menggambarkan pengendalian diri terhadap hawa nafsu dan waktu hidup, mengingatkan praktisi akan batas eksistensialnya. Petok adalah esensi dari sebuah tujuan, yaitu taqarrub ilallah atau kedekatan dengan Sang Pencipta. Setiap gerakan dalam Seni Golok Kala Petok adalah tindakan simbolik yang memuat nilai-nilai Tauhid dan Tasawuf. Gerak menarik golok dari bawah ke atas sambil diiringi dzikir La ilaha illallah melambangkan pencerahan hati (qalbu) dan pemurnian niat. Secara simbolis, gerakan ini mengacu pada kisah Nabi Muhammad SAW yang disucikan dadanya oleh Malaikat Jibril. Struktur koreografi dari Seni Golok Kala Petok yang berjumlah 21 jurus memiliki makna numerologis mendalam yaitu Angka 2 (keseimbangan alam) dan 1 (Tauhid, Allah Sang Pencipta). Rincian 21 jurus dibagi menjadi 11 sabetan memiliki filosofi mengingatkan untuk bertauhid, 5 tarikan memiliki arti mengajak melaksanakan Rukun Islam, 4 tusukan memiliki arti atau filosofif memasukkan Asma Allah ke dalam 4 lapis jasad manusia, dan 1 gorokan yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar dengan satu jurus yaitu La ilaha illallah. Makna simbolik Seni Golok Kala Petok mencapai puncaknya pada etika spiritualnya: "menang tanpa musuh". Ini adalah dekonstruksi arketipe jawara yang awalnya fokus pada kekuatan eksternal menjadi Jihad Akbar (perjuangan terbesar) melawan ego diri sendiri. Pesantren telah berhasil merekontekstualisasi artefak kekerasan menjadi alat untuk mencapai ihsan (kesempurnaan amal). Adapun penjabaran dari 21 jurus diatas dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Gambar 4.1. Jurus Sabetan Golok Kala Petok Gambar 4. 2. Jurus Tarikan Golok Kala Petok Gambar 4. 3. Jurus Tusukan Golok Kala Petok Gambar 4. 4. Gorokan Golok Kala Petok Analisis Filsafat Gerak Henri Bergson dalam Gerak Spiritual dan Duration Aplikasi teori Bergson pada Seni Golok Kala Petok memungkinkan analisis non-mekanistik terhadap gerakan bela diri. Filsafat gerak Bergson mengajarkan bahwa gerakan sejati harus didorong oleh kesadaran batin, yang terukur dalam Duration. 1) Gerak dan Kesadaran Waktu - Kala Filsafat Kala atau waktu/kesadaran dalam Seni Golok Kala Petok selaras dengan konsep Duration Bergson. Pelatihan Golok Kala Petok tidak hanya melatih refleks fisik tetapi secara eksplisit melatih kesadaran waktu dan pengendalian emosi. Dengan memadukan gerak dan dzikir, praktik ini memaksa praktisi untuk keluar dari waktu yang terfragmentasi (waktu jam) dan memasuki waktu spiritual yang terus-menerus menyadari kehadiran Ilahi. Tujuannya adalah mengubah setiap jurus menjadi ekspresi langsung dari élan vital atau dorongan hidup kreatif yang diarahkan kepada Tuhan. 2) Gerak sebagai Perjalanan Eksistensial Golok Kala Petok, sebagai implikasi dari Gerak Dzikir, merupakan ekspresi kinestetik dari perjalanan spiritual. Dalam pandangan Sufistik yang sejalan dengan Bergson, kesadaran spiritual adalah gerak dari wujud menuju Wujud Sejati. Gerakan yang diulang-ulang dalam latihan berfungsi memperkuat memori spiritual dan membentuk intuisi. Artinya, Seni Golok Kala Petok bukan sekadar latihan fisik yang membutuhkan waktu, melainkan sebuah proses yang intensif dan kualitatif di mana tubuh menjadi kendaraan yang sadar (mindfulness) dalam mendekat kepada Tuhan. Gerak yang terkontrol dan sadar inilah yang menghasilkan harmoni antara jasad, ruh, dan akal. Implikasi Pedagogis dalam Tradisi Pesantren Integrasi Seni Golok Kala Petok ke dalam kurikulum Pesantren Dzikir Al-Fath menunjukkan model pedagogis Islam yang holistik. Pesantren Dzikir Al-Fath menerapkan pendidikan terintegrasi yang memadukan pendidikan formal dengan pendidikan nonformal. Seni Golok Kala Petok menjadi bagian integral dari pendidikan karakter yang memadukan dzikir, adab (etika), dan silat menuju ihsan. Filosofi Seni Golok Kala Petok didasarkan pada 5 Lapisan Diri Manusia yang dilatih dalam PS Sang Maung Bodas, yaitu Jasad (Olah Tubuh), Pikir (Tafakur, Muhasabah), Nafsu (Olah Nafas), Rasa (Tadabur Alam), dan Qalbu/Ruh (Dzikir).Konsep ini didukung oleh ajaran Islam di mana 5 lapisan ini ditundukkan melalui Sholat 5 Waktu. Dengan demikian, latihan Penca Golok Kala Petok, Penca yang bermakna panca/lima, dan Silat, yang bermakna sholat/silaturahmi adalah gerakan amal perbuatan yang meningkatkan silaturahmi, menegaskan bahwa ilmu ini melatih kelima lapis diri manusia untuk tunduk kepada Allah. Seni Golok Kala Petok memadukan falsafah Sunda silih asah, silih asih, silih asuh, silih wawangi dengan etika spiritual Islam. Prinsip "menang tanpa musuh" adalah manifestasi dari etika ini, yang mengajarkan bahwa kekuatan fisik (kanuragan) harus dilandasi oleh kekuatan spiritual (kerokhanian) dan moral yang tinggi. Seni Golok Kala Petok menjadi sarana dakwah dan pengembangan karakter, menghasilkan santri yang tidak hanya pandai mengaji tetapi juga memiliki adab dan ketahanan diri. Dimensi Legalitas sebagai medium Konservasi Budaya Berbasis Hukum Salah satu poin paling modern dari Seni Golok Kala Petok adalah strategi pelestariannya melalui pengakuan formal negara. Seni Golok Kala Petok telah memperoleh Hak Cipta resmi dari Kemenkumham RI No. 000329868 tahun 2022, meliputi bentuk koreografi, simbol gerak, dan narasi filosofis. Langkah ini adalah strategi adaptif yang krusial di tengah arus modernisasi. Model pelestarian Seni Golok Kala Petok berbeda dari model tradisional Ciomas yang bergantung pada kerahasiaan dan garis keturunan.Dengan adanya legalitas, Seni Golok Kala Petok melindungi integritas dan filosofinya agar tidak disalahgunakan atau dikomersialkan tanpa pengakuan yang layak, memastikan nilai ekonomis dan estetiknya bagi generasi penerus PS Sang Maung Bodas. Legalitas ini sekaligus mendukung upaya publikasi dan promosi Seni Golok Kala Petok di tingkat internasional, termasuk melalui media digital. KESIMPULAN Seni Golok Kala Petok merupakan ekspresi seni pertunjukan religius yang kompleks, menyintesis tradisi bela diri Pencak Silat Sang Maung Bodas (berakar pada warisan Sunda-Banten) dengan ajaran spiritualitas Islam modern di lingkungan pesantren. Karya KH. M. Fajar Laksana ini berhasil mentransformasi artefak historis (golok) dan arketipe kultural (jawara) menjadi perangkat pedagogis yang mendalam. Hasil Analisis interpretatif menunjukkan beberapa hal yaitu: (1) Interpretasi Simbolik dengan analisis Geertz dimana Seni Golok Kala Petok adalah sistem simbol yang merangkum filosofi hidup. Terminologi Kala (waktu/kesadaran) dan Petok (kedekatan) berfungsi sebagai panduan bagi praktisi menuju Taqarrub Ilallah. Koreografi gerak yang disandingkan dengan La ilaha illallah adalah teks ritual yang mengajarkan Tauhid dan memurnikan niat, memuncak pada etika "menang tanpa musuh." (2) Filsafat Gerak dengan analisi Bergson menyimpulkan bahwa Gerakan Seni Golok Kala Petok melampaui mekanisme fisik, ia adalah perwujudan Duration dan upaya menuju "Wujud Sejati" sufistik. Latihan ini menuntut kesadaran waktu yang intensif, mengubah aksi menjadi manifestasi spiritual yang aktif dan seimbang antara jasad, ruh, dan akal. (3) Pedagogi Pesantren, secara pedagogik Seni Golok Kala Petok berfungsi sebagai kurikulum holistik yang melatih 5 Lapisan Diri Manusia, selaras dengan tujuan pendidikan Islam membentuk insan kamil. Ini adalah demonstrasi bahwa tradisi budaya dapat direvitalisasi menjadi instrumen pendidikan karakter yang relevan di era kontemporer. (4) dalam konteks Kontinuitas Budaya, Strategi pelestarian melalui Hak Cipta formal memosisikan Golok Kala Petok sebagai model adaptif yang menjamin keberlangsungan nilai spiritual-budaya di tengah arus modernisasi, berbeda dari model konservasi yang mengandalkan kerahasiaan eksklusif. REFERENSI Christine, S. E. (2021). Nilai - Nilai Yang Terkandung dalam Olahraga Tradisional Bola Leungeun Seuneu di Pondok Pesantren Dzikir Al Fath. Jurnal BELAINDIKA (Pembelajaran dan Inovasi Pendidikan), 3(3), 46-50. https://doi.org/10.52005/belaindika.v3i3.88 Darmawan, A. D., Adelliana, A., Cahyani, E. D., & Triana, A. N. (2023). Pencak Silat dan Nilai Sosial dalam Masyarakat?: Literature Review Pencak Silat and Social Values in Society?: Literature Review. Jurnal Penjaga, 4(November), 28-35. Hafidz, F., Sari, H. P., Lestari, N. A., Alfariji, M. S., Putri, N. C., Rahayu, W., Rohmawati, W., Maulana, M. S., & Ginto, A. A. (2024). Eksistensi Generasi Muda Dalam Melestarikan Tradisi Warisan Budaya Seni "Golok Ciomas" di Era Society 5.0. JERUMI: Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary, 2(1), 388-397. https://doi.org/10.57235/jerumi.v2i1.1985 Muttaqien, T. Z. (2019). Golok Walahir Sebagai Identitas Budaya Masyarakat Desa Sindangkerta Kabupaten Tasikmalaya. ATRAT: Jurnal Seni Rupa. https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/atrat/article/view/916%0Ahttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/atrat/article/download/916/592 Ruswandi, Y. (2024). Internalisasi Lima Nilai Karakter Budaya Sunda dalam Pendidikan Kewirausahaan. Kaipi: Kumpulan Artikel Ilmiah Pendidikan Islam, 2(1), 24-33. https://doi.org/10.62070/kaipi.v2i1.54 Sahara, A. D., Fadillah, M. A., & Fauzan, R. (2023). Golok Seuat as Banten's Cultural Identity. Jawi, 06(October), 135-147. Siti, S. (2019). Pesan Dakwah Dalam Permainan Bola Leungeun Seuneu (Studi Kasus Tentang Seni Islam Permainan Bola Leungeun Seuneu di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath Desa Karang Tengah Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi). Educacao e Sociedade, 1(1), 1689-1699. http://www.biblioteca.pucminas.br/teses/Educacao_PereiraAS_1.pdf%0Ahttp://www.anpocs.org.br/portal/publicacoes/rbcs_00_11/rbcs11_01.htm%0Ahttp://repositorio.ipea.gov.br/bitstream/11058/7845/1/td_2306.pdf%0Ahttps://direitoufma2010.files.wordpress.com/2010/ COMUNICA Penulis ¦ Judul COMMUNICA Penulis ¦ Judul 2| | 3 JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL INNOVATION AND EMPOWERMENT Vol. 01 No. 01 Februari 2025 | Hal. 01-3 e-ISSN/p- ISSN : XXXX-XXXX/XXXX-XXXX https://ejournal.stidkinu.ac.id/index.php/JIMI/index