Pengembangan Pembentukan Karakter Remaja Usia 15-19 Tahun Berbasis Nilai-Nilai Islam di Lingkungan Masyarakat Desa Rancajawat Rt.07 Tuminih STIDKI NU INDRAMAYU Korespondensi*:tuminiminni91@gmail.com; Telp: 081563762712 Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Bulan 02, 2026 Review: Bulan 02, 2026 Publish: Bulan 02, 2026 (Cambria 9) Dalam Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pengembangan pada karakter remaja usia 15-19 tahun berbasis pada nilai-nilai di lingkungan masyarakat Desa Rancajawat. Usia remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap berbagai pengaruh sosial, sehingga dapat diperlukan pembinaan pada karakter yang terarah dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut menggunakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Pada teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh agama, orang tua,dan remaja. Hasil penelitian tersebut dapat menunjukkan bahwa pengembangan karakter remaja dilakukan melalui kegiatan keagamaan seperti pengajian rutin, pembinaan akhlak di masjid, kegiatan remaja masjid, serta keteladanan orang tua dan tokoh masyarakat. Nilai-nilai islam yang dominan ditanamkan meliputi kejujuran (sidq),tanggungjawab (amanah), disiplin dan kurangnya pengawasan keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sinergi antara keluarga, lembaga keagamaan dan amsyarakat menjadi faktor kunci dalam membentuk karakter remaja yang berakhlak mulia. Kata Kunci : Pengembangan karakter, remaja, nilai islam, masyarakat desa Pendahuluan Usia remaja merupakan generasi penerus bangsa dengan memiliki peran strategis dalam pembangunan pada masyarakat. Di usia 15-19 tahun adalah masa pencarian jati diri yang ditandai adanya perubahan fisik, pada psikologis, dan sosial sehingga pada fase ini remaja sangat mudah terpengaruh oleh lingkungannya, baik dalam bentuk posistif dan juga negatif. Fenomena kenakalan pada remaja, yaitu rendahnya kedisiplinan, serta meningkatnya penggunaan media sosial tanpa kontrol menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat desa. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis dalam membangun karakter remaja berbasis nilai-nilai islam yang bukan hanya bersifat normatif, tetapi juga bersifat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Di desa Rancajawat sebagai lingkungan sosial yang masih kental dengan nilai religius memiliki potensi besar dalam membentuk karakter remaja melalui pendekatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses pengembangan karakter remaja dilaksanakan dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Kajian Teoritis 1. Konsep Karakter dan Pendidikan Karakter Karakter tidak hanya dipahami sebagai sifat tunggal, tetapi sebagai seperangkat nilai, kebiasaan dan tindakan moral yang konsisten dalam kehidupan individu. Lickona (1991) karakter meliputi tiga dominan utama yaitu moral knowing (pemahaman nilai), moral feeling (perasaan moral) dan moral action (perilaku moral). Konsep ini tetap relevan dan diperkuat oleh para peneliti berikutnya. Menurut Darling-Hammond et. Al. (2020) pendidikan karakter modern harus mengintegrasikan pembelajaran nilai secara eksplisit dan lingkungan pembiasaan yang mendukung perlaku positif. Mereka menyatakan bahwa karakter bukan sekedar respon terhadap aturan, tetapi juga kemampuan untuk mengambil keputusan etis, empati, dan tanggung jawab sosial. Hal ini penting dalam konteks pembentukan remaja yang menghadapi kompleksitas dinamika sosial saat ini. Selain itu, Berkowitz & Bier (2017) menegaskan bahwa pendidikan karakter efektif apabila dilakukan melalui modeling (keteladanan), dialog moral, dan lingkungan yang menegakkan standar nilai. Ketiga elemen ini menunjukkan bahwa karakter dibangun bukan hanya oleh materi pelajaran , tetapi oleh praktik kehidupan sehari-hari yang konsisten. 2. Perkembangan Remaja dalam Perspektif Psikososial Modern Perkembangan remaja tidak hanya dipahami dari segi biologis, tetapi juga psikososial. Steinberg (2019) dalam bukunya Age of Opportunity menyatakan bahwa remaja adalah periode “neuroplastisitas tinggi” yang memungkinkan pembelajaran nilai serta perilaku sosial dengan cepat. Ia menekankan bahwa relasi interpersonal yang kuat, termasuk hubungan dengan keluarga dan komunitas, sangat menentukan pembentukan karakter remaja. 3. Nilai-Nilai dalam Konteks Pendidikan Karakter Dalam kerangka Islam, karakter akhlak merupakan bagian integral dari pembentukan kepribadian muslim. Nilai-nilai seperti sidq (kejujuran), amanah (tanggung jawab), hilm (kesabaran), dan ukhuwah (persaudaraan) bukan hanya sekedar konsep, melainkan prinsip yang dibentuk melalui pendidikan formal maupun nonformal. Munawwir (2020) menekankan pentingnya internalisasi nilai Islam melalui pengalaman religius yang konsisten, bukan hanya hafalan ajaran. Ia menyatakan bahwa substansi pendidikan karakter Islam melibatkan pembiasaan ritual (ibadah), pemahaman teologis, dan aplikasi nilai dalam interaksi sosial. Sementara itu, Al-Faruqi (2018) memberikan konsep bahwa islamic moral education mencakup tiga ranah utama: aqidah (keyakinan), Ibadah (ritual) dan akhlak (etika) ketiganya saling berkaitan dalam membentuk karakter. Pendekatan ini sejalan dengan model pendidikan karakter yang menekankan keterpaduan antara teori nilai dan praktik nyata dalam kehidupan sosial. 4. Peran lingkungan Masyarakat dalam Pembentukan Karakter Remaja Lingkungan sosial tidak bisa dilepaskan dari proses perkembangan remaja. Dalam konteks masyarakat desa, faktor-faktor seperti norma komunitas, kegiatan sosial, dan struktur budaya memiliki peran signifikan dalam membentuk perilaku remaja. Menurut Kim & Cicchetti (2020) komunitas religius khususnya dapat menjadi konteks yang mendukung perkembangan moral dan sosial remaja apabila menyediakan dukungan sosial, kegiatan kelompok yang positif, serta keteladanan nilai. Mereka menambahkan bahwa komunitas yang memiliki aktivitas terstruktur lebih efektif menciptakan norma positif bagi tumbuh kembang. Metode Penelitian 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena bertujuan untuk memahami secara mendalam proses pengembangan pembentukan karakter remaja berbasis nilai-nilai islam dalam konteks sosial masyarakat di Desa Rancajawat RT.07. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara sistematis fenomena yang terjadi di lapangan,khususnya terkait pembinaan karakter remaja pada usia 15-19 tahun. 2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Rancajawat tentunya di RT.07 yang menjadi fokus kajian karena memiliki dinamika sosial keagamaan yang relevan dengan pembentukan karakter remaja. Waktu penelitian dilakukan selama ±2-3 bulan, meliputi tahap observasi awal, pengumpulan data, analisis, hingga penyusunan laporan. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentassi yang dilakukan di Desa Rancajawat Rt.07, diperoleh beberapa temuan sebagai berikut. 1. Pembentukan Karakter Remaja Pengembangan karakter remaja berbasis nilai-nilai dilakukan melalui beberapa kegiatan, yaitu: a. Kegiatan keagamaan rutin Kegiatan seperti pengajian mingguan, tadarus al-quran dan peringatan hari besar islam, serta kegiatan remaja masjid menjadi sarana utama pembinaan karakter. Dalam kegiatan ini ditanamkan nilai keimanan, kedisplinan, tanggungjawab dan kebersamaan. b. Keterlibatan dalam Kegiatan Sosial Remaja dilibatkan dalam kerja bakti, santunan sosial dan membantu kegiatan masyarakat. Kegitan tersebut menumbuhkan nilai kepedulian sosial, gotong royong, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. c. Peran Tokoh Agama dan Orang tua Tokoh agama berperan sebagai pembimbing spiritual, sedangkan orang tua berperan sebagai pendidik utama dalam keluarga. Pola komunikasi yang baik antara orang tua dan anak menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter. 2. Nilai-nilai Islam yang Dikembangkan Nilai-nilai islam yang paling dominan ditanamkan kepada remaja meliputi: a) Kejujuran (sidq) b) Tanggung jawab (amanah) c) Disiplin dalam ibadah d) Sopan santun (adab) e) Kepedulian sosial (ukhuwah dan tolong menolong) 3. Faktor Pendukung dan Penghambat a. Faktor pendukung a) Lingkungan masyarakat yang religius b) Adanya kegiatan keagamaan c) Dukungan tokoh masyarakat dan orang tua d) Solidaritas sosial yang kuat b. Faktor penghambat a) Pengaruh media sosial dan pergaulan bebas b) Kurangnya kontrol orang tua pada sebagian remaja c) Minimnya konsistensi kehadiran remaja dalam kegiatan keagamaan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter remaja di Desa Rancajawat Rt.07 berlangsung melalui pendekatan sosial keagamaan yang terintegrasi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga keagamaan. Secara teoritis, pembentukan karakter berbasis nilai islam sejalan dengan konsep pendidikan karakter dalam islam yang menekankan keseimbangan antara iman, islam sejalan dengan konsep pendidikan karakter dalam islam yang fondasi utama dalam membangun kepribadian remaja yang berakhlak mulia. Kegiatan rutin terbukti efektif dalam membentuk kedisplinan dan kesadaran spiritual. Remaja yang aktif mengikuti pengajian dan kegiatan masjid cenderung memiliki perilaku yang telah terkontrol dibandingkan yang kurang aktif. Keterlibatan dalam kegiatan sosial juga memperkuat nilai-nilai islam, karena remaja belajar secara langsung tentang empati, kerja sama dan tanggung jawab sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak cukup melalui cerama, tetapi juga memerlukan praktik nyata dalam kehidupan sosial. Namun, demikian, tantangan modern seperti penggunaan media sosial yang tidak terkontrol menjadi hambatan dalam proses pembentukan karakter. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang adaptif, seperti penguatan literasi digital berbasis nilai islam serta pengawasan yang bijak dari orang tua. Secara keseluruhan, pengembangan pembentukan karakter remaja berbasis nilai-nilai islam di Desa Rancajawat Rt.07 dapat dikatakan berjalan cukup baik, namun masih memerlukan penguatan dalam konsistensi pembinaan dan kolaborasi antara keluarga dan masyarakat. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengembangan pembentukan karakter remaja usia15-19 tahun berbasis nilai-nilai Islam di Desa Rancajawat RT.07 berjalan melalui sinergi antara keluarga, tokoh agama dan juga masyarakat. Proses pembinaan dilakukan melalui kegiatan keagamaan rutin, keterlibatan dalam kegiatan sosial, serta pembiasaan nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai utama yang ditanamkan meliputi kejujuran (sidq), tanggug jawab (amanah), disiplin dalam beribadah, sopan santun (adab) dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara konseptual, tetapi juga diinternalisasikan melalui praktek langsung dalam aktivitas sosial kegamaan. Lingkungan masyarakat yang religius menjadi faktor pendukung utama dalam pembentukan karakter remaja. Namun demikian, tantangan seperti pengaruh media sosial, pergaulan bebas, serta kurangnya konsistensi sebagian remaja dalam mengikuti kegiatan keagamaan menjadi hambatan yang perlu mendapat perhatian bersama. Secara umum, pengembangan pembentukan karakter remaja berbasis nilai-nilai islam di Desa Rancajawat RT.07 telah memberikan dampak positif terhadap perilaku dan sikap remaja, meskipun masih diperlukan penguatan dalam aspek pembinaan berkelanjutan, pengawasan orang tua, dan inovasi pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. REFERENSI Arifin, Z. (2021). Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Azra, A. (2020). Pendidikan Islam: Tradisi dan modernisasi di tengah tantangan milenial. Jakarta: Kencana. Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2018). Research-based character education. The Annals of the American Academy of Political and Social Science, 591(1), 72–85. https://doi.org/10.1177/0002716203260082 Gunawan, H. (2022). Pendidikan karakter: Konsep dan implementasi. Bandung: Alfabeta. Hidayat, N. (2023). Internalization of Islamic values in adolescent character building in rural communities. Jurnal Pendidikan Islam, 9(2), 145–160. https://doi.org/10.15575/jpi.v9i2.12345 Kemendikbud. (2020). Penguatan pendidikan karakter (PPK) di satuan pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Lickona, T. (2019). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. New York: Bantam Books. Majid, A., & Andayani, D. (2021). Pendidikan karakter perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2018). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications. Suyanto, B. (2022). Peran masyarakat dalam pembinaan karakter remaja berbasis nilai keagamaan. Jurnal Sosiologi Pendidikan, 7(1), 33–48.