Implementasi Kurikulum Pesantren Berbasis Ekonomi Sirkular Studi Kasus: Ekosistem Pay It Forward di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath Fajar Laksana1, Inne Ariefianty2 12Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan Fajar.laksana@dzikiralfath.com, innefajar@gmail.com, Abstrak Pesantren saat ini menghadapi tantangan untuk menjaga nilai spiritualitas sekaligus beradaptasi dengan era Society 5.0. Banyak institusi mengalami stagnasi akibat ketergantungan finansial yang tinggi pada pihak eksternal dan lemahnya integrasi antara kurikulum akademik dengan kemandirian ekonomi santri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme manajerial dan struktur kurikulum di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath dalam membangun ekosistem mandiri melalui integrasi unit bisnis, etika bisnis berbasis akidah, dan peran alumni dalam jaringan global. Metodologi yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui pendekatan sirkular yang meliputi pengamatan partisipatif, wawancara mendalam dengan pimpinan dan pengelola unit bisnis, serta studi dokumentasi. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Implementasi kurikulum berbasis ekonomi sirkular dilakukan melalui ekosistem "Pay It Forward" yang mensinergikan pilar Faith, Food, and Philanthropy (2F1P). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Integrasi unit bisnis melalui prinsip Learn & Earn mampu membiayai operasional sehingga pendidikan menjadi gratis; (2) Pemanfaatan teknologi biokonversi sampah organik (maggot) memberikan keuntungan ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan; dan (3) Kontribusi alumni melalui zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) menjamin keberlanjutan investasi sosial lintas generasi. Kata-kata Kunci: Ekonomi Sirkular, Manajemen Kurikulum, Pay It Forward, Pesantren, Kemandirian Finansial. Abstract Islamic boarding schools currently face challenges in maintaining spiritual values ??while adapting to the Society 5.0 era. Many institutions experience stagnation due to high financial dependence on external parties and weak integration between the academic curriculum and the economic independence of students. This study aims to analyze the managerial mechanisms and curriculum structure at the Dzikir Al-Fath Modern Islamic Boarding School in building an independent ecosystem through the integration of business units, faith-based business ethics, and the role of alumni in global networks. The methodology used is a qualitative approach with a case study type. Data collection was carried out through a circular approach that includes participatory observation, in-depth interviews with business unit leaders and managers, and documentation studies. Data analysis follows the Miles and Huberman model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The implementation of a circular economy-based curriculum is carried out through the "Pay It Forward" ecosystem that synergizes the pillars of Faith, Food, and Philanthropy (2F1P). The results of the study show that: (1) Integration of business units through the Learn & Earn principle is able to finance operations so that education becomes free; (2) The use of organic waste bioconversion technology (maggots) provides economic benefits as well as environmental preservation; and (3) Alumni contributions through zakat, infaq, and shodaqoh (ZIS) ensure the sustainability of social investment across generations. Keywords: Circular Economy, Curriculum Management,Pay It Forward, Islamic Boarding School, Financial Independence. Pendahuluan Transformasi pendidikan Islam di Indonesia tengah menghadapi tantangan ganda yang bersifat paradoksal. Di satu sisi, pesantren dituntut untuk tetap menjadi penjaga gawang nilai-nilai spiritualitas dan tradisi keagamaan yang luhur. Di sisi lain, arus globalisasi dan tuntutan era Society 5.0 memaksa lembaga-lembaga ini untuk mengadopsi fleksibilitas strategis dalam manajemen kurikulum dan pembiayaan guna mencetak lulusan yang kompetitif secara fungsional(N.A et al., 2025). Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak institusi pendidikan Islam, termasuk pesantren, mengalami stagnasi akibat ketergantungan finansial yang tinggi pada sumber dana pemerintah, kontribusi peserta didik, atau donasi sporadis dari pihak eksternal (Mashuri, 2018). Ketergantungan ini seringkali menciptakan kesenjangan antara visi ideal pendidikan Islam dengan implementasi praktis di lapangan, di mana akses terhadap pendidikan berkualitas menjadi terbatas bagi kelompok masyarakat kurang mampu (Munif & Baharun, 2018).????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? Masalah krusial lainnya adalah lemahnya integrasi antara kurikulum akademik dengan pengembangan kemandirian ekonomi santri. Sebagian besar literatur penelitian terdahulu cenderung berfokus pada aspek teoretis pengembangan kurikulum atau manajemen administratif semata, tanpa memberikan panduan praktis mengenai cara membangun ekosistem pendidikan yang mandiri secara finansial namun tetap berakar pada nilai-nilai keislaman (Arum Inawati et al., 2025). Dalam menghadapi era Society 5.0 yang ditandai dengan integrasi teknologi dan informasi di setiap lini kehidupan, manajemen kurikulum pendidikan Islam harus mampu merespons perubahan tanpa mengabaikan esensi akhlak, iman, dan takwa (Marfiyanto et al., 2025). Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath di Sukabumi merespons tantangan ini dengan mengembangkan sebuah model manajemen kurikulum yang revolusioner berbasis ekonomi sirkular melalui ekosistem "Pay It Forward" (Imanudin Iim, Nurlaila Lia, 2024). Ekonomi sirkular secara mendasar berbeda dengan sistem ekonomi linear tradisional yang menganut pola "ambil-pakai-buang" (Gunawan, 2023). Dalam perspektif sirkular, siklus hidup produk, bahan baku, dan sumber daya diupayakan untuk bertahan selama mungkin melalui regenerasi sistem secara alami, pengurangan limbah, dan optimalisasi nilai guna (Sofwatillah et al., 2024). Di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, konsep ini diterjemahkan ke dalam mekanisme "Ekonomi Shodaqoh Sirkular" yang mengintegrasikan pilar Faith, Food, and Philanthropy (2F1P) (Ruswandi, 2024). Integrasi nilai-nilai lingkungan dan kemandirian ekonomi ini selaras dengan kesepakatan global dalam Sustainability Development Goals (SDGs) 2030, yang menyerukan tindakan universal untuk mengakhiri kemiskinan dan melindungi planet (Prihatin et al., 2025). Melalui kurikulum berbasis sirkularitas, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sosialisasi agama, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi pembentukan karakter ekologis dan kewirausahaan santri (Sofwatillah et al., 2024). Hal ini menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan spiritual, tetapi juga bijak dalam bertindak demi masa depan bumi dan keberlanjutan generasi mendatang (Talitha et al., 2022). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis mekanisme manajerial dan struktur kurikulum di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath dalam membangun ekosistem mandiri. Analisis akan difokuskan pada bagaimana integrasi antara unit bisnis mahasiswa, etika bisnis berbasis akidah, dan peran alumni dalam jaringan global dapat menciptakan sirkularitas nilai yang mendukung sistem pendidikan gratis dan berkualitas (Yudik al farisi et al., 2024). Melalui telaah mendalam terhadap strategi manajerial yang adaptif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan model manajemen pendidikan Islam yang responsif terhadap dinamika zaman namun tetap berpijak pada nilai-nilai fundamental ajaran Islam (Aslan et al., 2025). Ekonomi sirkular merupakan pengembangan sistemik yang berupaya menutup siklus produksi dan konsumsi sehingga umur produk dapat diperpanjang melalui penggunaan kembali, daur ulang, atau perbaikan (Gunawan, 2023). Secara etimologis, sirkular berarti berbentuk lingkaran, yang dalam konteks ekonomi bermakna efisiensi penggunaan sumber daya yang diambil secara bijak untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Dalam dunia pendidikan, istilah "Sekolah Sirkular" muncul sebagai tawaran menarik di mana sekolah bertindak sebagai agen perubahan untuk menanamkan karakter peduli lingkungan yang menghasilkan nilai ekonomi (Mukhlishin, 2024). Prinsip dasar ekonomi sirkular sering dirangkum dalam konsep 5R yaitu Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, dan Repair. Implementasi prinsip ini dalam manajemen sekolah, seperti yang dilakukan di MI Muhammadiyah Patikraja, terbukti meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan pengelolaan lembaga. Misalnya, pengalihan administrasi berbasis kertas ke e-administration (Reduce) tidak hanya menghemat biaya operasional tetapi juga memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk lebih fokus pada proses pembelajaran (Gunawan, 2023). Kemandirian finansial pesantren sangat bergantung pada faktor kepemimpinan kewirausahaan (entrepreneurial leadership). Kepemimpinan ini melibatkan kreativitas dan inovasi untuk mencari solusi pembiayaan alternatif di luar dana pemerintah atau sumbangan santri. Seorang pemimpin pesantren yang memiliki orientasi kewirausahaan akan merancang program ekonomi produktif, seperti produksi barang halal, jasa, atau unit usaha pertanian, yang hasilnya digunakan untuk mendanai infrastruktur dan operasional harian pesantren (Arum Inawati et al., 2025). Model manajemen kewirausahaan dapat dianalisis menggunakan kerangka 6M yaitu Man (SDM), Money (Uang), Material (Bahan), Machine (Mesin), Method (Metode), dan Market (Pasar). Keberhasilan pengembangan kemandirian ekonomi sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang memiliki inovasi dan profesionalisme. Di lembaga seperti Pesantren Nurul Jadid, pemisahan antara keuangan operasional pendidikan dan keuangan unit wirausaha menjadi kunci untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas (Suradi A, 2022). Dalam perspektif Islam, setiap aktivitas ekonomi harus berlandaskan pada akidah yang benar dan akhlak yang mulia. Pembelajaran Akidah Akhlak di madrasah bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial (Mukhlishin, 2024). Karakter religius santri yang terbentuk melalui pembiasaan ibadah dan keteladanan pendidik merupakan modal spiritual yang mencegah penyimpangan dalam pengelolaan unit bisnis pesantren. Hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta menciptakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk menjaga kelestarian lingkungan sebagai wujud rasa syukur atas anugerah Allah SWT (Arief et al., 2025). Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk menggali pemahaman mendalam mengenai praktik manajerial dan kurikulum di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, Sukabumi. Studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengamati fenomena secara alamiah dalam konteks yang utuh, baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi program. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pendekatan Sirkular yang melibatkan tiga metode utama dengan tahapan yaitu: (1) Pengamatan partisipatif (participant observation) terhadap operasional berbagai divisi unit bisnis pesantren untuk melihat integrasi kurikulum ekonomi sirkular dalam praktik nyata, (2) Wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pimpinan pondok, pengelola unit bisnis, dan perwakilan alumni untuk menggali filosofi ekosistem "Pay It Forward" serta tantangan strategis yang dihadapi dan (3) Studi dokumentasi untuk memperoleh data sekunder berupa rencana pembelajaran, laporan keuangan unit bisnis, dan data kontribusi ZIS alumni. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan sesuai model Miles and Huberman dengan tahapan antara lain yaitu reduksi data untuk menyaring informasi yang relevan, penyajian data secara sistematis guna memfasilitasi penarikan pola, dan penarikan kesimpulan yang divalidasi melalui triangulasi data. Fokus utama analisis tertuju pada sinergi pilar Faith, Food, and Philanthropy (2F1P) dan efektivitas mekanisme sirkularitas operasional di pesantren. Hasil dan Pembahasan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath berlokasi di Kota Sukabumi dan telah menetapkan visi jangka panjang untuk menjadi lembaga dengan kualitas terbaik di tingkat nasional pada periode 2021-2025. Hingga saat ini, pesantren ini menampung sekitar 1.250 lebih mahasiswa dan siswa santri, dengan jaringan alumni yang telah merambah mancanegara, seperti di Turkiye, Jepang, Dubai, Kuwait dan Arab Saudi. Pesantren ini tidak hanya berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga mengembangkan struktur organisasi yang sangat kompleks dengan pembagian divisi bisnis yang terspesialisasi. Berikut adalah struktur divisi operasional dan unit bisnis di Ponpes Dzikir Al-Fath yang menjadi motor penggerak ekonomi sirkular antara lain sebagai berikut: Tabel 1. Divisi Operasional Unit Bisnis Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Divisi Bisnis Unit Usaha & Fokus Kegiatan Peran dalam Ekonomi Sirkular Divisi 1 Etnofarmaka Al-Fath, RSIH Al-Fath, Toko Souvenir, Depot AMDK Ad Dua, Market Place. Pemanfaatan kearifan lokal dan penyediaan kebutuhan dasar santri. Divisi 2 Konveksi, Pabrik Roti (Teaching Factory), Al-Fath Mart, Butik Aliya. Produksi sandang dan pangan mandiri melalui media pembelajaran santri. Divisi 3 CV. Maju Jaya, Penyaluran Kerja Luar Negeri, Koperasi. Integrasi teknologi industri dan fasilitasi mobilitas karier alumni. Divisi 4 KSP Swamitra, Laziswaf Al-Fath, Audit Akuntan Publik, Perumahan. Manajemen aset, filantropi, dan jaminan transparansi finansial. Divisi 5 Integrated Farm Education & Entrepreneurship (IFE2), Kebersihan Pengolahan Pemanfaatan Sampah dan Limbah (KP2SL) Pengelolaan Peternakan dan Perkebunan yang terintegrasi (IFE) sebagai sarana pembelajaran dan wirausaha, dan Pengelolaan Kebersihan serta pemanfaatan Sampah dan Limbah Divisi 6 Museum Prabu Siliwangi, Perpustakaan, Humas Al-Fath. Pelestarian nilai budaya dan pembangunan citra lembaga. Sumber: Diolah Penulis,2025. Ekosistem Pay it Forward yang telah berjalan di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath tertuju pada sinergi pilar Faith, Food, and Philanthropy (2F1P) dan efektivitas mekanisme sirkularitas operasional di pesantren, Hal ini digambarkan dalam beberapa fase yaitu Fase 1. Kurikulum Internalisasi Etika Bisnis Berbasis Faith (Iman), Fase 2. Sirkularitas Operasional Melalui Pilar Food (Pangan & Ekonomi), dan Fase 3. Mekanisme Pay It Forward Berbasis Pilar Philanthropy (Filantropi). Fase 1. Kurikulum Internalisasi Etika Bisnis Berbasis Faith (Iman) Pondasi utama kurikulum di Dzikir Al-Fath dimulai dengan penguatan aspek Faith atau keimanan. Pada fase ini, santri dibekali dengan pemahaman mendalam tentang Akidah Akhlak yang diaplikasikan dalam konteks profesional. Pendidikan karakter religius bukan sekadar hafalan teori, melainkan internalisasi nilai-nilai keimanan yang mengarahkan perilaku dalam interaksi ekonomi sehari-hari. Guru berperan sebagai teladan utama (role model) dalam menunjukkan sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Integrasi nilai-nilai spiritual dalam kurikulum ekonomi dilakukan untuk memastikan bahwa santri memahami konsep khalifah fil ardh yang mana manusia sebagai pemelihara bumi yang memiliki tanggung jawab etis dalam menggunakan sumber daya alam.1 Pembiasaan ibadah harian seperti shalat berjamaah, dzikir, dan kajian kitab klasik diposisikan sebagai "modal spiritual" yang membentuk mentalitas santri yang tangguh, sabar, dan penuh integritas sebelum mereka dilibatkan dalam pengelolaan unit usaha pada fase berikutnya. Fase 2. Sirkularitas Operasional Melalui Pilar Food (Pangan & Ekonomi) Pada fase kedua, kurikulum bertransformasi menjadi laboratorium hidup melalui unit-unit bisnis mahasiswa yang dikelola dengan prinsip Learn & Earn. Strategi ini menggunakan unit usaha sebagai media Experiential Learning, di mana santri belajar secara praktis mengelola rantai pasok, manajemen produksi, hingga pemasaran digital. Hasil dari unit-unit usaha ini, seperti pabrik roti dan air minum dalam kemasan, digunakan untuk menutup seluruh biaya operasional pendidikan, sehingga pesantren mampu membebaskan biaya SPP bagi mahasiswa. Dalam konteks ekonomi sirkular, pesantren mengadopsi prinsip 5R untuk meminimalkan limbah dan memaksimalkan nilai tambah. Salah satu implementasi paling krusial adalah pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly. Limbah sisa makanan dari dapur pesantren yang mencapai volume signifikan per harinya tidak lagi dibuang ke TPA, melainkan dikonversi menjadi biomassa larva berprotein tinggi dalam waktu singkat antara 10-14 hari. Tabel 2. Proses Ekonomi Sirkular IFE2 Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Komponen Proses Ekonomi Sirkular Dampak bagi Pesantren Bahan Baku Sampah organik dapur/kantin dan limbah pertanian sekitar. Pengurangan biaya pengelolaan limbah dan pelestarian lingkungan. Proses Biokonversi oleh larva maggot di lahan kosong pesantren. Media edukasi praktis bagi santri dan pengurangan polusi bau. Produk Utama Pakan ternak (ikan/ayam) berkualitas tinggi. Substitusi biaya pakan komersial yang mahal (kemandirian operasional). Residu Bekas maggot (Kasgot) sebagai pupuk organik cair/padat. Mendukung kemandirian unit kebun sayur dan buah pesantren. Sumber: Diolah Penulis, 2025. Melalui mekanisme ini, tercipta sirkularitas mikro di mana sisa makanan santri menjadi pakan ikan, dan hasil panen ikan kembali menjadi konsumsi santri. Hal ini membuktikan bahwa institusi pendidikan berbasis pesantren mampu menerapkan teknologi ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya internal untuk mencapai kedaulatan pangan dan ekonomi. Fase 3. Mekanisme Pay It Forward Berbasis Pilar Philanthropy (Filantropi) Keberlanjutan jangka panjang ekosistem Al-Fath dijamin oleh pilar filantropi melalui mekanisme "Pay It Forward". Konsep ini beroperasi berdasarkan nilai kebersamaan dan distribusi kesejahteraan lintas generasi. Alumni yang telah berhasil menapaki karier profesional, baik di dalam negeri maupun di jaringan global seperti Turkiye, Jepang, Kuwait, Dubai, dan Arab Saudi, memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan dukungan bagi generasi santri berikutnya. Kontribusi alumni dalam bentuk Zakat, Infaq, dan Shodaqoh (ZIS) disalurkan melalui Laziswaf Al-Fath ke dalam dana abadi pesantren. Data empiris menunjukkan bahwa kontribusi dari satu orang alumni yang bekerja di luar negeri rata-rata mampu mensubsidi biaya pendidikan untuk 2 hingga 3 santri baru. Hal ini merupakan realisasi nyata dari filosofi sirkularitas harta dalam Islam agar kekayaan tidak hanya menumpuk pada segolongan kecil orang, melainkan terus mengalir untuk mengangkat derajat masyarakat marjinal. Tabel 3. Realisasi Mekanisme Pay it Forward di Ponpes Modern Dzikir Al-Fath Metrik Filantropi Mekanisme Tradisional Mekanisme Pay It Forward Al-Fath Tujuan Donasi Pembangunan fisik sporadis. Investasi SDM berkelanjutan (Dana Abadi). Hubungan Alumni Ikatan emosional tanpa komitmen sistemik. Kontrak sosial moral untuk mensubsidi adik kelas. Skala Dampak Terbatas pada lingkungan lokal. Global (Remitansi alumni di luar negeri). Keberlanjutan Bergantung pada kedermawanan insidental. Terjamin melalui sistem sirkulasi nilai lintas generasi. Sumber: Diolah Penulis, 2025. Sinergi antara alumni, lembaga keuangan pesantren, dan manajemen yang transparan menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini didukung oleh penggunaan teknologi audit akuntan publik dan sistem manajemen terpadu untuk memastikan setiap rupiah dari donatur digunakan secara tepat sasaran demi peningkatan mutu layanan pendidikan. Strategi Manajerial Adaptif dalam Menghadapi Society 5.0 Keberhasilan implementasi kurikulum sirkular di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif. Kepala sekolah dan pimpinan pondok bertindak sebagai fasilitator yang menjembatani nilai keislaman dengan tantangan globalisasi. Beberapa strategi manajerial kunci yang diterapkan meliputi: 1. Kepemimpinan Visioner dan Partisipatif Pimpinan melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari dewan guru hingga komite dan alumni, dalam setiap tahapan perencanaan kurikulum. 2. Integrasi Teknologi Digital Pengembangan kapasitas guru dan santri dalam memanfaatkan aplikasi pembelajaran berbasis digital dan perangkat lunak manajemen bisnis modern menjadi fokus utama untuk memastikan relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri. 3. Manajemen Mutu Layanan Upaya perbaikan mutu dilaksanakan secara kontinu melalui identifikasi proses, pembentukan tim khusus untuk inovasi bisnis, serta penyediaan pelatihan intensif bagi pengelola unit usaha. 4. Optimalisasi Aset dan Lahan Lahan pesantren yang sebelumnya tidak produktif dialihfungsikan menjadi pusat pengolahan limbah organik dan Teaching Factory, menciptakan efisiensi ruang dan ekonomi. Strategi ini tidak hanya meningkatkan kualitas pengajaran secara akademik tetapi juga membangun reputasi (image) lembaga yang kuat di mata masyarakat. Dengan pelayanan yang memuaskan dan hasil lulusan yang mandiri, pesantren mampu menarik minat pelanggan tanpa harus bergantung pada kampanye pemasaran konvensional. Dampak terhadap Karakter dan Kesadaran Ekologis Santri Implementasi kurikulum berbasis ekonomi sirkular memberikan kontribusi signifikan terhadap tiga domain utama dalam Education for Sustainable Development (ESD): 1. Domain Kognitif Santri memperoleh pengetahuan mendalam tentang ekologi, manajemen limbah, dan sistem ekonomi regeneratif yang tidak diajarkan secara mendalam di sekolah konvensional. 2. Domain Afektif Penanaman nilai-nilai spiritualitas lingkungan (fiqh al-bi'ah) menumbuhkan empati dan tanggung jawab moral santri untuk menjaga alam sebagai bagian dari keimanan mereka kepada Allah SWT. 3. Domain Psikomotorik Melalui keterlibatan aktif dalam unit bisnis, praktik kompos, dan budidaya maggot, santri menguasai keterampilan teknis kewirausahaan dan solusi praktis atas masalah lingkungan hidup. Transformasi budaya sekolah ini juga tercermin dari peningkatan disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan pondok. Program seperti "Hari Tanpa Plastik" dan "Gerakan Pungut Sampah" di pesantren-pesantren modern menunjukkan pergeseran paradigma dari manajemen tradisional yang lemah ke manajemen lingkungan yang terstruktur dan bermartabat. Simpulan Implementasi kurikulum pesantren berbasis ekonomi sirkular di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath melalui ekosistem "Pay It Forward" membuktikan bahwa institusi pendidikan Islam tradisional dapat mencapai kedaulatan finansial dan relevansi global tanpa kehilangan jati diri spiritualnya. Sinergi antara pilar Faith, Food, and Philanthropy menciptakan siklus nilai yang menutup celah pemborosan sumber daya dan mengatasi ketergantungan pada pihak eksternal. Model ini menunjukkan bahwa: (1) Kurikulum yang mengintegrasikan unit bisnis (Learn & Earn) mampu membiayai operasional pendidikan secara mandiri sehingga akses pendidikan gratis dapat diwujudkan, (2) Pemanfaatan teknologi biokonversi seperti budidaya maggot merupakan inovasi ekologis yang memberikan keuntungan ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan, (3) Kepemimpinan kewirausahaan yang adaptif terhadap teknologi Society 5.0 adalah kunci bagi fleksibilitas strategis lembaga, dan (4) Mekanisme Pay It Forward oleh alumni menjamin keberlanjutan investasi sosial lintas generasi yang berlandaskan pada sirkularitas nilai-nilai keislaman. Berdasarkan hasil analisis, beberapa rekomendasi dapat diajukan untuk pengembangan manajemen pendidikan Islam di masa depan antara lain yaitu: 1. Standardisasi Kurikulum Sirkular Dibutuhkan penyusunan modul kurikulum "Belajar & Berdaya" yang terstandardisasi agar model yang telah berjalan di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath dapat direplikasi oleh pesantren-pesantren lain di Indonesia sesuai dengan potensi lokal masing-masing daerah. 2. Penguatan Literasi Digital dan Keuangan Pengelola pesantren perlu meningkatkan investasi dalam pelatihan teknologi bagi pendidik dan santri, khususnya dalam penggunaan alat bantu audit digital untuk menjamin transparansi pengelolaan dana alumni dan unit bisnis. 3. Kolaborasi Pentahelix Pesantren disarankan untuk memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi, lembaga keuangan syariah, dan instansi pemerintah terkait untuk mendapatkan pendampingan riset teknologi tepat guna seperti optimasi biokonversi limbah dan akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk unit usaha santri. 4. Integrasi Fiqh Lingkungan Kurikulum Akidah Akhlak di seluruh jenjang pendidikan pesantren harus diperkaya dengan konten fiqh al-bi'ah untuk membangun kesadaran ekologis yang permanen pada diri santri sebagai pemimpin masa depan yang berakhlak mulia dan sadar lingkungan. Melalui langkah-langkah transformatif ini, pondok pesantren akan terus berdiri tegak sebagai pilar pendidikan nasional yang tidak hanya mencetak ahli ilmu agama (mutafaqqih fi al-din), tetapi juga mencetak generasi Muslim yang mandiri, kompetitif, dan memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Referensi Arief, P. M., Agus, S., Muhammad, T. H., & Faiz, N. A. (2025). SOLUSI RAMAH LINGKUNGAN MENGOLAH SAMPAH ORGANIK MELALUI BUDIDAYA MAGGOT DI PESANTREN ULUMUL QURAN STABAT KABUPATEN LANGKAT. 4(3), 1162-1169. Arum Inawati, W., Rr. Sri Saraswati, Tri Widarmanti, Hilda, & Fajra Octrina. (2025). Edukasi dan Aksi: Program Pengelolaan Sampah untuk Lingkungan Pesantren dalam Peningkatan Ekonomi Sirkular. Jurnal Atma Inovasia, 5(2), 147-151. https://doi.org/10.24002/jai.v5i2.10559 Aslan, M., Saepudin, & Nurhayati, S. (2025). Pembelajaran Akidah Akhlak dalam Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Qur ' an At - Taqwa Jampue Learning of Creed and Morals in the Formation of Religious Character of Students at the Islamic Senior High S. Ilmu Kependidikan dan Keislaman, 20(01), 96-115. https://doi.org/10.56338/iqra.v20i1.6640 Gunawan, I. (2023). Mengelola Sekolah Berbasis Ekonomi Sirkular. Primary, 2(1), 10-24. https://primary.ump.ac.id/index.php/primary/article/view/44%0Ahttps://primary.ump.ac.id/index.php/primary/article/download/44/50 Imanudin Iim, Nurlaila Lia, H. I. (2024). Cultural and Religious Resilience: Dzikir Al-Fath, Boarding School, Sukabumi, West Java in a Globalized World. Cultural and Religious Resilience: Dzikir Al-Fath, Boarding School, Sukabumi, West Java in a Globalized World. Marfiyanto, T., Iqbal, M., Adi, F., Muhammad, M., Abrori, L., Jl, A., Katamso, B., Waru, K., Sidoarjo, K., & Timur, J. (2025). Sustainable Islamic Education: Optimalisasi Limbah Dapur Sebagai Bahan Baku Sabun untuk Pemberdayaan UMKM Pesantren Sulaimaniyah Waru Sustainable. 2. Mashuri. (2018). Manajemn Kurikulum Pesantren di Era Globalisasi (Studi Kasus di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Rumbia Lampung Tengah). 1-156. Mukhlishin, A. (2024). Pendampingan Santri Dalam Budidaya Magot Di Provinsi Lampung: Meningkatkan Kemandirian Pondok Pesantren Melalui Ekonomi Circular. Jurnal Pengabdian Multidisiplin, 4, 1-8. https://journal.kurasinstitute.com/index.php/japamul/article/view/735 Munif, M., & Baharun, H. (2018). Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren: Menggagas Interkoneksi Agama dan Sains. Jurnal Penelitian, 12(1), 137. https://doi.org/10.21043/jp.v12i1.4928 N.A, A. Z., Sari, Y. K., & Siswanto. (2025). Strategi Manajerial Adaptif dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam di Era Society 5.0: Menjembatani Nilai Keislaman dan Tantangan Globalisasi di Sekolah. Eesti NSV Teaduste Akadeemia Toimetised. Keemia. Geoloogia, 24(2), 168. https://doi.org/10.3176/chem.geol.1975.2.10 Prihatin, N. A., Setiawati, E., & Sunarti. (2025). Implementasi Eco-Pesantren Sebagai Budaya Sekolah Menuju Education For Sustainable Development di PPM Baitussalam. Selami Ips, 18(2), 248-259. https://doi.org/10.36709/selami.v18i2.119 Ruswandi, Y. (2024). Internalisasi Lima Nilai Karakter Budaya Sunda dalam Pendidikan Kewirausahaan. Kaipi: Kumpulan Artikel Ilmiah Pendidikan Islam, 2(1), 24-33. https://doi.org/10.62070/kaipi.v2i1.54 Sofwatillah, S., Mukhtar, M., Anwar, K., MY, M., & Asrulla, A. (2024). Penerapan Mutu Layanan Dalam Merambah Peluang Prestasi Sekolah Berbasis Pesantren. IQRO: Journal of Islamic Education, 7(1), 63-82. https://doi.org/10.24256/iqro.v7i1.4796 Suradi A. (2022). TRANSFORMASI SISTEM (PENDIDIKAN PESANTREN Implikasinya terhadap Penanaman Panca Jiwa Pondok) (Nomor September 2018). Talitha, R., Supriatna, M., & Dahlan, T. H. (2022). Jargon: Ngajaga Shalat, Ngajago Silat, Ngajaga Silaturahmi at Dhikr Al Fath Islamic Boarding School . Proceedings of the International Seminar on Innovative and Creative Guidance and Counseling Service (ICGCS 2021), 657(Icgcs 2021), 177-182. https://doi.org/10.2991/assehr.k.220405.030 Yudik al farisi, Ahmad ZUbaidi, & brilian Alianroo. (2024). Kepemimpinan Kewirausahaan Berbasis Pesantren;Kelincahan Strategis Lembaga Pendidikan Islam MenujuKemandirian Finansial. JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan), 7, 2900-2910. JurnalEkonomiSyariah Vol. 2. No. 1. Mei 2019 [1-16] (JADE) Journal of Global Da'wah and Community Issn : 3123-4445 Vol : 1 Nomor 1 Tahun 2025 Doi : xxxx | | 65 JurnalEkonomiSyariah Vol. 2. No. 1. Mei 2019 [1-16] |