"Pergeseran Etika Komunikasi Generasi Muda Di Era Media Sosial" Hendri Imam Santoso1 Harno Diyansyah2 Shobani3 Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Nahdlatul Ulama Indramayu, Indonesia Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Nahdlatul Ulama Indramayu, Indonesia Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Nahdlatul Ulama Indramayu, Indonesia Korespondensi Budicharles608@gmail.com, harnoaprillio@gmail.com, shobanibani79@gmail.com2 Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Bulan X, 2025 Review: Bulan XI, 2025 Publish: Bulan XII, 2025 (Cambria 9) Perkembangan media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi generasi muda. Media sosial tidak hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga ruang utama interaksi sosial yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan beretika. Namun, kemudahan berkomunikasi di ruang digital sering kali diiringi dengan melemahnya etika komunikasi, seperti penggunaan bahasa kasar, ujaran kebencian, serta rendahnya empati dalam berinteraksi. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran etika komunikasi dari nilai-nilai kesantunan menuju pola komunikasi yang lebih bebas dan tanpa batas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk pergeseran etika komunikasi generasi muda di era media sosial serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial berperan besar dalam membentuk pola komunikasi generasi muda, baik secara positif maupun negatif, sehingga diperlukan penguatan literasi etika komunikasi digital. Keywords: etika komunikasi, generasi muda, media sosial PENDAHULUAN Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial. Melalui komunikasi, individu membangun relasi, menyampaikan gagasan, serta mengekspresikan sikap dan nilai. Dalam konteks sosial, komunikasi tidak hanya ditentukan oleh pesan yang disampaikan, tetapi juga oleh etika yang mengatur cara berkomunikasi. Etika komunikasi berfungsi sebagai pedoman agar interaksi berlangsung secara santun, menghargai, dan bermakna. Namun, perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap komunikasi secara drastis, terutama di kalangan generasi muda. Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan media sosial. Platform digital seperti Instagram, TikTok, dan X menjadi ruang utama untuk berinteraksi, mengekspresikan diri, dan membangun identitas sosial. Kemudahan akses dan kecepatan komunikasi membuat batas-batas sosial menjadi semakin kabur. Dalam banyak kasus, komunikasi di media sosial dilakukan tanpa mempertimbangkan norma dan etika yang berlaku dalam komunikasi tatap muka. Hal ini memunculkan berbagai fenomena komunikasi yang cenderung agresif dan kurang empatik. COMUNICA Penulis ¦ Judul Pergeseran etika komunikasi ini terlihat dari meningkatnya penggunaan bahasa kasar, komentar bernada merendahkan, serta rendahnya kesadaran akan dampak pesan yang disampaikan. Generasi muda sering kali merasa lebih bebas mengekspresikan pendapat di ruang digital tanpa mempertimbangkan konsekuensi sosial dan moral. Anonimitas dan jarak virtual membuat kontrol sosial menjadi lemah. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi juga nilai-nilai yang mendasarinya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rendahnya literasi digital dan etika komunikasi menjadi salah satu faktor utama pergeseran tersebut. Media sosial sering digunakan tanpa pemahaman yang memadai mengenai tanggung jawab komunikasi. Akibatnya, ruang digital dipenuhi oleh interaksi yang bersifat reaktif dan emosional. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berdampak pada kualitas hubungan sosial generasi muda. Oleh karena itu, kajian mengenai etika komunikasi di era media sosial menjadi penting untuk dilakukan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pergeseran etika komunikasi generasi muda di era media sosial. Penelitian ini juga berupaya mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perubahan tersebut serta implikasinya terhadap kehidupan sosial. Dengan pendekatan deduktif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman konseptual dan rekomendasi strategis bagi penguatan etika komunikasi digital. KAJIAN TEORI Etika komunikasi merupakan seperangkat nilai dan norma yang mengatur cara individu berkomunikasi secara baik dan bertanggung jawab. Etika ini mencakup aspek kejujuran, kesantunan, empati, dan penghargaan terhadap orang lain. Menurut Mulyana (2016), etika komunikasi berfungsi untuk menjaga kualitas interaksi sosial agar tidak merugikan pihak lain. Dalam komunikasi yang beretika, pesan disampaikan dengan mempertimbangkan dampak psikologis dan sosial bagi penerima. Oleh karena itu, etika komunikasi menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Generasi muda didefinisikan sebagai kelompok usia yang berada pada fase transisi menuju kedewasaan dan memiliki karakteristik adaptif terhadap perubahan teknologi. Mereka cenderung cepat menerima inovasi dan menjadikan media digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak selalu diimbangi dengan kematangan etika komunikasi. Menurut Tapscott (2019), generasi digital memiliki kecenderungan mengekspresikan diri secara terbuka, tetapi sering mengabaikan norma komunikasi yang konvensional. Media sosial sebagai medium komunikasi digital memiliki karakteristik yang berbeda dengan komunikasi tatap muka. Interaksi di media sosial bersifat cepat, luas, dan sering kali minim kontrol. Pesan dapat disebarluaskan tanpa proses penyaringan yang memadai. Menurut Boyd (2014), media sosial menciptakan ruang publik baru yang memungkinkan terjadinya komunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, kondisi ini juga membuka peluang terjadinya penyimpangan etika komunikasi. Pergeseran etika komunikasi terjadi ketika nilai-nilai kesantunan dan tanggung jawab mulai tergantikan oleh kebebasan berekspresi yang tidak terkendali. Dalam konteks media sosial, pergeseran ini terlihat dari perubahan gaya bahasa, sikap komunikatif, dan pola interaksi. Komunikasi menjadi lebih reaktif, emosional, dan cenderung konfrontatif. Fenomena ini menunjukkan bahwa etika komunikasi perlu dipahami ulang sesuai dengan konteks digital yang terus berkembang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Metode ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai fenomena pergeseran etika komunikasi generasi muda di era media sosial. Data penelitian diperoleh dari buku, jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta laporan penelitian yang relevan dengan topik komunikasi dan media sosial. Sumber- sumber tersebut dipilih berdasarkan kredibilitas akademik dan keterkaitan dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan, pengelompokan, dan interpretasi data. Peneliti mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan etika komunikasi, karakteristik generasi muda, dan pengaruh media sosial. Pendekatan deduktif digunakan dengan menarik kesimpulan dari konsep umum menuju fenomena khusus. Proses analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menghasilkan pemahaman yang sistematis dan mendalam. 2| COMMUNICA Penulis ¦ Judul HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang utama komunikasi generasi muda. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi memengaruhi cara generasi muda berinteraksi dan menyampaikan pesan. Komunikasi di ruang digital cenderung bersifat singkat, spontan, dan emosional. Hal ini berdampak pada berkurangnya kehati-hatian dalam memilih kata dan menyampaikan pendapat. Etika komunikasi sering kali terabaikan demi kecepatan dan kebebasan berekspresi. Pergeseran etika komunikasi juga terlihat dari menurunnya sensitivitas sosial dalam interaksi digital. Generasi muda cenderung kurang mempertimbangkan perasaan dan perspektif orang lain saat berkomentar di media sosial. Fenomena perundungan daring dan ujaran kebencian menjadi bukti nyata dari lemahnya etika komunikasi. Menurut Mulyana (2016), komunikasi tanpa empati berpotensi merusak hubungan sosial dan menciptakan konflik. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan kesadaran etis dalam komunikasi digital. Faktor lain yang memengaruhi pergeseran etika komunikasi adalah minimnya literasi digital. Banyak generasi muda menggunakan media sosial tanpa pemahaman yang memadai mengenai etika dan tanggung jawab komunikasi. Media sosial dipandang sebagai ruang bebas tanpa konsekuensi sosial. Padahal, setiap pesan yang disampaikan memiliki dampak nyata bagi individu dan masyarakat. Boyd (2014) menekankan bahwa ruang digital tetap memiliki norma sosial yang perlu dijaga. Selain itu, lemahnya peran keluarga dan institusi pendidikan turut mempercepat pergeseran etika komunikasi. Pendidikan etika komunikasi belum menjadi fokus utama dalam pembelajaran formal. Generasi muda lebih banyak belajar berkomunikasi dari lingkungan digital dibandingkan dari teladan langsung. Hal ini menyebabkan nilai-nilai kesantunan dan empati tidak berkembang secara optimal. Sekolah dan keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan etika komunikasi sejak dini. Pembahasan ini menunjukkan bahwa pergeseran etika komunikasi bukan semata-mata akibat media sosial, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan pendidikan. Media sosial hanya menjadi medium yang mempercepat perubahan tersebut. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak cukup dengan membatasi penggunaan media sosial, tetapi perlu penguatan literasi etika komunikasi digital. Pendekatan edukatif dan kolaboratif menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. KESIMPULAN Pergeseran etika komunikasi generasi muda di era media sosial merupakan dampak nyata dari perubahan pola interaksi sosial akibat digitalisasi. Media sosial telah membentuk cara berkomunikasi yang lebih cepat, terbuka, dan bebas, namun sering kali mengabaikan nilai kesantunan, empati, dan tanggung jawab. Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi digital cenderung bersifat reaktif dan emosional, sehingga memicu melemahnya etika komunikasi serta menurunnya kualitas hubungan sosial di kalangan generasi muda. Pergeseran tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh intensitas penggunaan media sosial, tetapi juga oleh rendahnya literasi etika komunikasi digital serta kurang optimalnya peran keluarga dan institusi pendidikan. Oleh karena itu, penguatan etika komunikasi perlu dilakukan secara terintegrasi melalui pendidikan formal, pembiasaan di lingkungan keluarga, dan kebijakan literasi digital yang berkelanjutan. Etika komunikasi harus diposisikan kembali sebagai fondasi utama dalam interaksi sosial agar generasi muda mampu berkomunikasi secara bijak, empatik, dan bertanggung jawab di ruang digital maupun nyata. REFERENSI Boyd, D. (2014). It's Complicated: The Social Lives of Networked Teens. New Haven: Yale University Press. Mulyana, D. (2016). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tapscott, D. (2019). Growing Up Digital: How the Net Generation Is Changing Your World. New York: McGraw-Hill. | 3